Infobekasi.co.id – Para pengrajin tempe di wilayah Bekasi mengaku mengalami kesulitan usaha akibat kenaikan harga kedelai impor dipicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Bondan Daryono, pengrajin tempe yang berusaha di Gang Mawar 6, Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, mengatakan lonjakan harga bahan baku ini sebenarnya sudah terjadi sejak perayaan Idulfitri pada Maret lalu.
“Bisa jadi dampak dari nilai dolar yang naik atau rupiah yang melemah. Apalagi pasokan kedelai kami ini jenis impor, pengirimannya pun sempat lambat,” ungkap Bondan saat ditemui di tempat usahanya, Selasa (19/5/2026).
Kenaikan harga terlihat jelas pada harga kedelai sebelumnya dibeli seharga Rp9.500 per kilogram, kini melonjak menjadi Rp10.200. Tidak hanya kedelai, kenaikan harga juga turut dirasakan pada bahan pendukung lain, seperti plastik pembungkus.
Di tengah situasi sulit itu, Bondan mengaku tak memiliki banyak pilihan. Demi mempertahankan langganan dan tidak kehilangan pelanggan, ia memilih tetap bertahan meski harus merelakan pendapatannya menurun drastis.
“Permintaan atau pembelian dari pembeli sebenarnya masih sama seperti biasa. Pesanan tetap masuk, hanya saja ya begitu, keuntungan yang kami dapat jadi jauh berkurang,” ujarnya.
Guna menyiasati kenaikan harga bahan baku tersebut, Bondan terpaksa mengecilkan ukuran tempe yang dijual, namun tetap mempertahankan harga jual agar tetap terjangkau pembeli.
“Cara menyesuaikannya ya paling hanya dengan mengecilkan ukuran tiap papannya, harganya tetap sama saja seperti dulu,” jelasnya.
Ia merinci, untuk setiap satu kuintal kedelai yang diolah menjadi tempe, kini dirinya mengalami penurunan omzet hingga 20 persen.
“Dulu keuntungan bersih bisa mencapai Rp100 ribu per hari, sekarang tinggal sisa Rp80 ribu saja. Turun sekitar 20 persen,” paparnya.
Bondan pun berharap Pemerintah Kota Bekasi maupun pemerintah pusat dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga kedelai. Pasalnya, tempe merupakan salah satu sumber pangan utama dan makanan pokok yang dikonsumsi luas oleh masyarakat Indonesia.
“Harapan kami, kiranya pemerintah bisa memberikan subsidi kedelai lagi seperti kebijakan-kebijakan terdahulu, serta berupaya menstabilkan harga pasaran,” tuturnya.
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini terus menunjukkan tren pelemahan. Pada Jumat, 15 Mei 2026, nilai tukar dolar AS tercatat berada di angka Rp17.600.
(Fahmi)
Editor: Dede Rosyadi



























