Tips Mengelolah Keuangan Keluarga Di Saat Krisis

mengelola-keuangan-usaha-1-650x400Tidak dapat disangkal lagi, semua sedang menghadapi krisis perekonomian yang tak mudah dicari obatnya. Pada kuartal 1 tahun 2015, mengikuti trend penurunan sejak kuartal 4 tahun 2014, semakin menunjukkan gejala lampu oranye (siaga dan waspada). 

Sektor makanan dan minuman sudah turun 10 persen mendampingi sektor lain yang selama ini jadi Andalan ekonomi domestik. Kelesuan ini sangat dirasa, bahkan banyak pengusaha resto maupun rumah makan kecil sudah merasakan dampaknya secara nyata. Pengunjung sepi. Meskipun mal masih ramai, tetapi hanya untuk sarana rekreasi dengan belanja kebutuhan pokok. Banyak yang menahan diri untuk berbelanja. Itu sebabnya banyak pengusaha yang mulai jor-jor-an obral diskon.

Ini gambaran sederhana untuk menunjukkan kondisi perekonomian dunia dan kita sedang menuju perlambatan yang semakin cepat.

Lalu bagaimana cara agar kita dapat mempersiapkan kalau krisis ini benar-benar akan terjadi? Yang paling penting kita harus mengatur keuangan kita. Sehingga, bila seandainya ekonomi bertambah buruk, kita menjadi orang terakhir yang terkena dampanya. Tapi kalau ekonomi membaik, kitalah yang menjadi orang pertama yang menikmatinya. Lalu bagaimana strateginya?

1. Perketat pengeluaran Anda. Tunda yang tidak perlu, kurangi yang perlu, batalkan yang hanya berupa keinginan. Dalam kondisi sulit, pendapatan semakin sulit bertambah, itu sebabnya yang bisa meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga adalah mengurangi pengeluaran.

2. Lunasi hutang Anda secepatnya, apalagi hutang dengan menggunakan kartu kredit. Ingat dalam kondisi krisis, bunga hutang akan membunuh Anda perlahan karena orang yang berhutang akan menjadi budak orang yang menghutanginya.

3. Alokasi tabungan Anda ke sumber pendapatan yang terdiversifikasi dengan baik, entah itu unit link, deposito, saham, tanah, property, mata uang asing.

4. berani cut loss (menutup posisi yang merugi karena harga bergerak berlawanan untuk menghindari kerugian yang lebih besar) kalau investasi Anda sudah menurun misalnya propertiatau saham kalau itu didanai dengan hutang bank apalagi kartu kredit. Keyakinan akan lebih baik, lebih untung, hanya ada ketika ekonomi tumbuh baik. Ini menyebabkan banyak orang berani berhutang untuk spekulasi. Sebaiknya dalam kondisi lampu oranye, konsep itu segera diamputasi.

5. Yang terakhir tapi paling penting. Jangan paranoid, jangan panik tapi tetap optimis walapun waspada. Perbanyak cash dan tabungan likuid Anda, karena ketika kondisi semakin memburuk Anda bisa membeli asset dengan harga sangat miring, orang yang butuh uang akan mendiskonto dengan besar. Kesempatan bagi Anda memiliki assets produktif dengn harga murah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini