Kata Siapa Beda Agama Itu Harus “Bermusuhan”?

PersaudaraanKita semua hidup dalam kemajemukan. Ada perbedaan jenis kelamin, perbedaan idealisme, ras, suku, budaya, dan perbedaan agama. Dan kewajiban kita sebenar-benarnya adalah menghormati perbedaan tersebut, serta menjalin hubungan persaudaraan.

Di Semarang misalnya, dilansir dari bbc.com Indonesia, ada sebuah persahabatan yang manis antara Suster Atanasia dengan sejumlah guru-guru Muslim di Taman Kanak-Kanak Kucica.

Suster Anastasia merupakan seorang biarawati berumur 26 tahun, dari Kongregrasi Abdi Kristus yang aktif dalam dunia pendidikan. Ia mulai menjalin persahabatan dengan guru-guru muslim dalam acara Himpunan Pendidik dan Kependidikan Anak Usia Dini (Himpaudi), Kabupaten Semarang.

Lewat acara Himpaudi inilah, Suster Atanasia, sering bertemu dan mengadakan acara bersama dengan sejumlah guru TK Kucica.

“Sering latihan bareng. Kalau ada acara di sekolah St Theresia kami selalu datang. Bahkan dikenalkan dengan suster lainnya. Semua ramah,” kata Deasy Irawati, salah satu guru TK Kucica.

Lama kelamaan, karena sering mengadakan acara bersama, mereka menjadi semakin akrab. Bahkan para guru ini kerap kali datang berkunjung ke kompleks asrama, dan Sekolah Mardi Rahayu, tempat biarawati tinggal. Begitu juga sebaliknya.

Pada 9 Maret 2016, mereka mengadakan acara Jumpa Hati Perempuan Lintas Agama, yang diadakan di halaman Gereja Katolik Kristus Raja. Ratusan perempuan yangmewakili komunitas Muslim dan Kristiani datang untuk tujuan Persahabatan, Toleransi, dan Pesan Pluralisme. Partisipan semakin banyak ketika mereka berkunjung ke Masjid Jami’ Istiqomah, yang berada persis di depan gereja.

“Ini menjadi titik awal perempuan lintas agama bersama-sama mengambil peran untuk perdamaian dan semangat kemanusiaan,” ujar koordinator acara Yulia Silalahi dari Kongregasi Penyelenggaraan Ilahi.

Konsep dari acara ini membicarakan bukan tentang, kekristenan dataupun keislaman, melainkan hanya berbicar tentang Persaudaraan. Sedangkan tujuannya ada empat, yakni rasa syukur atas perjumpaan yang disemangati rasa persaudaraan, tekad menjadi promotor perdamaian dengan menjunjung rasa saling memahami, mengamalkan keyakinan untuk kerukunan di semua lingkup, serta tekad terus merajut dialog dan kerja sama dengan prinsip kebudayaan dan kemanusiaan untuk mewujudkan dan membangun peradaban yang lebih baik.

Jadi, berbeda keyakinan bukan alasan untuk bermusuhan bukan? (Adm)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini