Distako Tajamkan Guide Line Sayembara Fasade Pasar Proyek

dinas tata kota bekasiBEKASI SELATAN – Finalisasi untuk penajaman Guide Line Sayembara Fasade Pasar proyek dan penataan reklame siap dilakukan Dinas Tata Kota (Distako) melalui Focus Group Discussion (FGD) yang akan dilakukan pada 22 Agustus mendatang.

Kepala Seksi Penatagunaan Lahan Distako sekaligus Pelaksana Teknis Sayembara design fasade pasar proyek, Johan Budi Gunawan mengatakan bahwa FGD yang akan dilaksanakan nanti akan melibatkan beberapa pihak, diantaranya Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait, seperti DP3JU, Dinas Perhubungan (Dishub) , Dinas Bina Marga dan Tata Air (Disbimarta), Dinas Pemuda Olahraga, Budaya, dan Pariwisata (Disporbudpar), Budayawan, ahli sejarah, pengusaha reklame dan tokoh-tokoh masyarakat Kota Bekasi.

“Kegiatan ini ada 2, ada yang sifatnya konsultan ada yang sifatnya EO. Konsultan ini adalah membuat guide line atau arahan-arahan untuk para peserta lomba dan materi lomba. Nah pekerjaan konsultan ini belum selesai, baru laporan pendahuluan. Tanggal 22 Agustus nanti lah kita akan melakukan diskusi lagi untuk menajamkan guide linenya,” jelas Johan kepada infobekasi.co.id saat ditemui di ruangannya, Rabu (10/8).

Johan menerangkan, guide yang akan disusun nantinya meliputi 2 agenda, yaitu meliputi teknis lomba penataan reklame di ruas jalan A. Yani, serta tentang faktor-faktor yang diperlukan dalam sayembara fasade pasar proyek berikut syarat dan ketentuannya.

“Dari guide line ini harapannya penataan reklame bisa terwujud dengan kita bisa akomodir kepentingan pengusaha dan teknis penataan, jangan sampai kepentingan pengusaha tidak memperhatikan penataan, begitupun sebaliknya,” ujar Johan.

Sama halnya dengan sayembara fasade pasar proyek, guide line ini berfungsi menentukan bagaimana faktor-faktornya supaya budaya-budaya di Bekasi dapat tetap terjaga biarpun banyak rumah yang sudah banyak direnovasi, juga bagaimana supaya kepentingan masyarakat tetap bisa dijamin.

“Kita padukan aspek teknis dengan kepentingan masyarakat. Jangan sampai kita buat suatu lomba tapi kepentingan masyarakatnya tidak terpenuhi. Misalnya orang yang biasa makan di mayor oking tapi karena ditata jadi tidak bisa makan disana, nah kita nggak mau itu. Penataan kan bukan berarti dipindah. Justru kita ingin menata supaya antara pedagang/pengusaha, pemerintah dan masyarakat mencapai suatu kesepakatan dan sama-sama bisa mengakomodir kepentingannya,” kata Johan.

Sementara untuk juri yang nantinya akan dilibatkan dalam pelaksanaan kedua lomba tersebut, nantinya juga akan disiapkan juri profesional (aspek teknis) dan juga juri kehormatan (budayawan).

“Ancer-ancer sih udah ada. Pastinya tidak beda jauh dengan lomba landmark. Yang pasti kita libatkan IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) Kota Bekasi,” tandasnya. (Sel)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini