Percaya Ga Ada Batik Beraroma Bunga?

Warisatul Hasanah

Batik merupakan salah satu ciri khas dari Indonesia. Di Indonesia sendiri sudah ada berbagai macam batik. Tapi bagaimana dengan batik yang beraroma bunga?

Ia adalah Warisatul Hasanah, pencipta batik yang beraroma bunga. Umurnya mungkin masih terbilang muda (27 tahun), namun siapa sangka bahwa ia memiliki prestasi yang luar biasa, dengan membuat batik beraroma bunga tersebut.

Berikut merupakan kisahnya, seperti yang dikutip dari Tabloidnova.com.

Bagiku, keindahan kain batik tak sekadar pada kelembutan kain atau keindahan corak dan warnanya saja. Namun, lebih dari itu, bagaimana selembar kain yang merupakan warisan budaya adiluhung ini memiliki aroma sedap, sehingga membuat pemakainya lebih nyaman saat mengenakannya.

Dari ide itulah, aku kemudian menciptakan batik aromaterapi dan saat ini menjadi produk unggulan bisnisku. Perjalananku untuk bisa mencapai usaha seperti sekarang ini cukup panjang. Aku mengawalinya benar-benar dari bawah.

Tepatnya sejak tahun 2008 ketika aku masih berstatus sebagai mahasiswa STIE Perbanas, Surabaya.

Tak bisa dipungkiri, apa yang kudapat saat ini merupakan bentuk “balas dendam”-ku terhadap lingkungan ketika pertama kali aku menjadi mahasiswa. Ya, aku sempat menjadi bahan olok-olok teman-teman saat kuliah karena berasal dari Madura. Bahkan, seorang satpam kampus memanggilku dengan sebutan “Duro” (Madura-Red). Bagi sebagian orang, masyarakat Madura dipersepsikan dengan keterbelakangan.

Akan tetapi, meski menjadi obyek bullying teman-teman, aku tidak lantas minder. Sebaliknya, aku justru merasa terlecut supaya bisa menjadi yang terbaik di antara mereka. Dan semua itu kubuktikan ketika prestasi akademik yang jauh di atas prestasi teman-temanku, semester demi semester. Baru ketika nilai akademikku lebih tinggi, teman-teman berubah sikap. Mereka jadi lebih menghargaiku dalam pergaulan sehari-hari.

Tak hanya dalam hal pencapaian akademik saja, aku juga terpilih menjadi satu dari empat mahasiswa dan dua dosen untuk mengikuti Auditing Student Program (ASP) selama sebulan penuh bersama peserta dari berbagai negara di Edith Cowan University Australia, secara cuma-cuma. Kesempatan itu tentu saja sangat membanggakan buatku, karena aku dapat menunjukkan kepada keluarga maupun teman di kampus bahwa aku punya prestasi. Dalam perjalanan berikutnya, aku juga terpilih menjadi anggota Badan Perwakilan Mahasiswa.

Ide Batik Wangi

Ketika di Australia itulah, niatku untuk mengembangkan batik semakin kuat. Ceritanya, sebelum berangkat mengikuti program ASP ke Australia, pihak penyelenggara meminta setiap peserta untuk mempresentasikan satu hasil karya dari negara atau daerahnya masing-masing di depan peserta dari negara lain. Pemaparan itu mulai dari proses, sejarah, sampai bagaimana karya tersebut memiliki nilai ekonomi.

Pertama aku bingung mau menampilkan apa. Tetapi, setelah melalui berbagai pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mempresentasikan batik Madura. Kebetulan, keluarga kami juga pembatik dan tinggal di Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan, daerah yang dikenal sebagai salah satu sentra batik di Madura.

Ketika mempresentasikan proses pembuatan batik beserta nilai ekonomisnya di depan mahasiswa dan dosen di Australia, semua terperangah. Mereka mengakui, batik, dengan proses pembuatan yang begitu rumit dan penuh ketelatenan, adalah sebuah karya seni bernilai tinggi, tak ubahnya seperti seni lukis atau karya-karya seni yang lain.

Munculnya gagasan untuk membuat batik aromaterapi sendiri datang secara tiba-tiba. Ceritanya saat berada di Australia, kulihat ada sebuah ruangan di mana di dalamnya ditempatkan berbagai benda bernilai dari banyak negara. Dari Indonesia, kulihat hanya ada sebuah bongkahan kayu cendana yang di bawahnya tidak ditulis dari Indonesia tetapi Yogya.

Dari situ muncul ide di benakku, andaikata keharuman kayu cendana bisa digabung dengan batik, wah, tentu akan makin menarik. Jadi, batik tidak hanya indah, tetapi juga mengeluarkan wewangian yang menyegarkan. Kalau itu bisa diwujudkan, pasti banyak orang yang suka dan batik pun sepertinya layak ditempatkan di ruangan tersebut.

Batik Berjamur

Sepulang ke Indonesia, aku makin tertantang untuk belajar batik lebih mendalam. Aktivitas itu kulakukan malam hari sepulang kuliah. Aku kuliah di Surabaya dan setiba di rumahku di Bangkalan, Madura, aku tidak serta merta istirahat, tetapi diantar ayahku, Ismail, untuk melihat proses pembuatan batik ke Tanjung Bumi yang jaraknya cukup jauh. Aku belajar semua seluk-beluk membatik, mulai awal sampai proses akhir, termasuk pembuatan batik gentongan.

Batik gentongan adalah batik yang proses pewarnaannya menggunakan pewarna alami dengan cara merendam kain batik di dalam gentong yang terbuat dari tembikar. Begitulah kegiatanku sehari-hari selama ber bulan-bulan. Tempatku juga pernah digunakan beberapa mahasiswa asing memperdalam batik.

Sepulang dari Australia, di sela-sela kegiatan perkuliahan, aku juga kerap berdiskusi dengan para

dosen yang selama ini membimbingku di kampus untuk mewujudkan ide membuat batik aromaterapi . Oleh dosen, aku dianjurkan belajar pada produsen pembuat wewangian aromaterapi di Surabaya. Di sana aku sempat beberapa saat belajar tentang bagaimana cara membuat minyak aromaterapi.

Setelah mendapat ilmunya, aku kemudian coba terapkan untuk wewangian di kain. Ternyata prosesnya tidak sesederhana yang kubayangkan, karena setelah dicoba, ternyata warna kain batik yang telah direndam dengan cairan bahan aromaterapi memudar dan tidak cerah lagi.

Jualan Ke Kampus

Tapi aku tak putus asa. Aku belajar lagi, mengurangi atau menambah formula bahan-bahan pewangi. Kali ini kupilih yang tidak merusak warna. Akhirnya, kutemukan formula yang tepat supaya batik tetap cerah meski diberi aromaterapi. Tetapi kemudian muncul persoalan baru. Setelah enam bulan, kain batik itu jadi berjamur. Aku melakukan uji coba lagi sampai akhrinya kutemukan komposisi yang pas untuk menghasilkan batik aromaterapi. Alhamdulillah akhirnya apa yang kuharapkan berhasil juga.

Awalnya, wewangian yang kupilih adalah melati, mawar, dan cempaka, tetapi sekarang sudah berkembang menjadi beberapa varian, mulai dari stroberi, jeruk, sedap malam, serta eksotik. Aku menggunakan bahan-bahan tertentu, tetapi itu menjadi rahasiaku. Yang jelas, beberapa prosesnya antara lain perendaman, sampai pengeringan kain dengan oven.

Aroma kain tersebut bisa bertahan sampai empat tahun. Meski dicuci, dijemur, diseterika, tidak akan hilang. Kalau orang menggunakan parfum hanya mampu bertahan empat hari, tetapi aroma kain ini bertahan sampai empat tahun.

Setelah berhasil dengan batik aromaterapi, aku mulai memasarkan batik Tanjung Bumi keluar. Sebagai mahasiswa bisnis, aku menerapkan ilmu yang kudapat di kampus untuk mengembangkan usaha batik aromaterapi.

Salah satunya dengan memasarkan batik Madura justru bukan dari dalam Madura, tetapi justru dari luar. Bagi orang Madura, batik Madura, ya, biasa-biasa saja, makanya awal pengembangan bukan di Madura.

Aku melakukan marketing dengan cara berjualan dari kampus ke kampus. Kukirim surat permohonan ke berbagai kampus di Surabaya untuk memasarkan batik bagi karyawan. Proposal tersebut kukirim antara lain ke Universitas Airlangga, Universitas Sunan Ampel, Untag, Unitomo dan masih banyak lagi.

Begitu mendapat respons kesediaan dari pihak perguruan tinggi, barulah aku datang dengan membawa batik dagangan. Bahkan aku tak hanya menjual batik, tetapi juga sekalian menerima pesanan jahitan. Kebetulan ibuku, Maryam (57), punya usaha menjahit. Selain batik aromaterapi yang jadi andalan, aku juga tetap memproduksi jenis batik tulis biasa.

Berbagai Penghargaan

Usaha kerasku lambat laun menampakkan hasil. Respons yang datang makin hari makin meningkat. Bahkan, tak hanya di Surabaya, tetapi juga merambah ke daerah-daerah lain hingga ke Jawa Tengah. Batik beraroma memang baru aku yang menjual. Aku pun kemudian memberi label batik aromaterapi dengan label Al Warits, saat ini tengah dalam proses dipatenkan.

Keberhasilanku membangun bisnis batik aromaterapi juga mengubah ekonomiku. Dulu, kesana kemari aku hanya menggunakan sepeda motor, tetapi seiring usaha batik aromaterapi yang mulai berkembang, saat mahasiswa pun aku sudah punya deposito, mobil, dan segala kebutuhan lainnya. Padahal, aku berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Sejak SMP sampai SMA aku selalu mengandalkan prestasi di sekolah sehingga bisa bebas bayar sekolah.

Berkat keberhasilanku mengembangkan usaha batik aromaterapi, aku juga mendapatkan apresiasi dari berbagai lembaga. Tahun 2013, aku terpilih menjadi juara nasional Wira Usaha Mandiri dari Bank Mandiri, penghargaan sebagai Diplomat Success Chalenge (205) dari Wismilak Foundation, dan tanggal 29 September 2016 nanti dapat undangan dari sebuah lembaga di Amerika untuk menerima penghargaan sebagai Creative Woman of The World. Tahun 2017 nanti aku mendapat beasiswa untuk melanjutkan programmagister di Chicago University.

Saat ini, aku sudah mnemiliki beberapa outlet, baik di Madura maupun di daerah lain, seperti Surabaya, serta belasan distributor di beberapa daerah, termasuk Malaysia. Untuk Madura, aku punya tiga outlet di beberapa tempat, total sekarang ada 17 outlet. Selainoutlet milik sendiri, sebagian bergabung dengan outlet milik mitra kerja.

Terus terang, aku tak punya resep khusus untuk meraih sukses. Prinsipku cukup sederhana, yaitu manusia harus punya mimpi dan gigih memperjuangkan mimpinya agar menjadi nyata. Tapi, tentu harus didukung dengan doa.

Ke depan, aku ingin batik Madura lebih dikenal lagi sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat. Aku berjuang supaya masyarakat Madura punya kemampuan yang bisa dibanggakan. (Adm)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini