Hari Tani Nasional: Memaknai Sejarah dan Ikhtiar Mensejahterakan Petani

Infobekasi.co.id – Hari ini kita peringati sebagai Hari Tani Nasional. Jika menilik sejarah lahirnya, maka terekam jelas maksud dan tujuan dibaliknya. Yakni mimpi untuk memerdekakan dan mensejahterakan petani.

Hari Tani Nasional berawal dari keinginan mengubah Undang-undang Agraria kita yang masih warisan kolonial Belanda. Produk hukum tersebut dianggap mengebiri hak petani dan menguntungkan penguasa. Karena itu harus diubah agar menguntungkan petani.

Proses perubahan ini tak berjalan mudah. Dinamika politik yang terjadi pada kurun 1949-1959 membuat pembahasan tersebut tersendat-sendat. Hingga pada akhirnya pada 24 September 1960, Rancangan Undang-Undang Agraria disetujui DPR sebagai UU No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, atau dikenal dengan Undang-Undang Pembaruan Agraria (UUPA). UU Pokok-Pokok Agraria menjadi titik awal dari kelahiran hukum pertanahan yang baru, mengganti produk hukum agraria kolonial.

Jika dicermati, UUPA mengurus dan membagi tanah dan sumber daya alam lainnya yang terkandung di dalamnya untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Dasar politik hukum agraria nasional dinyatakan dalam teks asli UUD 1945 dalam Pasal 33 ayat (3) yang menyebutkan: “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara, dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.

Kontribusi pertanian sangat signifikan dibanding sektor-sektor lainnya. Kita bisa lihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Selama periode Januari-Mei 2020, nilai ekspor Indonesia mencapai 64,46 miliar dolar AS atau turun 5,96 persen dibandingkan periode yang sama pada 2019 yang mencapai 68,54 persen. Sedangkan ekspor nonmigas mencapai 60,97 miliar dolar AS atau menurun 3,50 persen. Ekspor nonmigas ini menyumbang 94,58 persen dari total ekspor Januari-Mei 2020.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto mengungkapkan, penurunan ekspor ini terjadi hampir di seluruh sektor kecuali pertanian. Untuk sektor migas turun cukup dalam hingga 34,93 persen, industri pengolahan turun 0,08 persen, sedangkan sektor tambang dan lainnya turun 21,02 persen.

Pada Agustus kemarin, BPS kembali merilis data. Nilai ekspor pertanian pada Juli 2020 mencapai USD 350 juta atau meningkat 24,1 persen dari capaian Juni 2020 yaitu USD 280 juta.

Data dan fakta ini menjadi bukti bahwa sektor pertanian paling tangguh dalam menghadapi pandemi Covid-19. Di saat yang lain terpuruk, pertanian justru mampu bertahan bahkan naik.

Berkaca dari ini, sudah sepatutnya kita betul-betul memahami makna dari Hari Tani Nasional. Kesejahteraan petani harus diperhatikan. Jangan membuat mereka sedih dengan banjirnya impor hasil tani.

Petani Sejahtera
Bangsa dan Negara Berdaulat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini