Infobekasi.co.id – Pedagang bambu di Kalibaru, Desa Tridaya Sakti, Tambun Selatan, beralih membuat panjat pinang saat musim lomba 17 Agustusan.
Tak sembarang bambu untuk panjat pinang, jenis bambu surat dipilih lantaran memiliki serat lebih halus dan panjangnya pun mencapai 12 meter.
“Tahun lalu hanya laku 20 batang yang sudah jadi,” kata Kasan, penjual bambu di lapak dagangan bambu miliknya, Selasa (8/08/23).
Menurut Kasan, lantaran pohon pinang mahal dan langka, Ia membuat dari batang bambu yang diameternya 10-15 sentimeter. Kemudian kulitnya dihaluskan dengan diseset pakai golok, lalu diamplas, hingga licin.
Batang bambu surat yang belum dirakit (belum siap pakai) berukuran 8 meter dihargai Rp.350 ribu. Untuk panjang 12 meter dibanderol Rp.400 ribu.
Untuk harga bambu yang sudah jadi (siap pakai) tingginya 6-7 meter dibandrol Rp.500 ribu. Untuk panjang bambu 12 meter Rp.650 ribu.
“Pokoknya tinggal tancap di tanah (bambu yang sudah siap dipakai perlombaan panjat pinang). Barang siap antar. Mudah-mudahan tahun ini (penjualannya) laris manis dari tahun kemaren,” pungkasnya.
Sekedar informasi, batang pohon pinang dulunya dipakai untuk perlombaan. Batang pohon pinang sudah dikuliti dan diberi cairan pelicin berupa oli, di atasnya ada bermacam hadiah digantungkan di lingkaran kayu yang melingkar.
Konon katanya, panjat pinang berawal dari zaman penjajahan Belanda. Lomba panjat pinang diadakan orang Belanda jika sedang menggelar acara besar, seperti hajatan, pernikahan.
Peserta lomba adalah orang-orang pribumi. Orang Belanda menonton sambil tertawa-tawa, lantaran orang pribumi saling injak saat mau meraih hadiah yang ada di ujung batang pohon pinang.
Namun, pandangan tersebut bergeser dari sudut pandang filosopi perjuangan, lomba panjat pinang ini memupuk kerjasama antar peserta dan saling memberi semangat untuk mencapai tujuan, yakni meraih bendera yang ada di pucuk pohon pinang.
Penulis : Haji Saban
Editor : D.Rosyadi






























