Monumen Kali Bekasi, Tempat Pertempuran Saat Revolusi

Infobekasi.co.id – Monumen Kali Bekasi ini dibangun atas kerjasama Pemerintah Jepang dan Pemda Kota Bekasi untuk mengenang para prajurit Jepang yang gugur di lintasan kereta api dekat Kali Bekasi sebagai simbol perdamaian dan cinta kasih.

Setiap tahunnya di Tugu Kali bekasi selalu di adakan upacara tabur bunga oleh warna negara Jepang yang kini tinggal di Bekasi dan sekitarnya.

Monumen Front Perjuangan berdiri di tepi Kali Bekasi, nampak seperti lambang Adipura, namun memiliki dua sisi undakan yang berbeda jumlahnya.

Berwarna cokelat dan memiliki dua pijakan. Dibangun sebagai kenangan kalau ditempat itu pernah terjadi suatu peristiwa pada masa revolusi.

Penanda sejarah ini baru beberapa tahun dibangun, namun jauh sebelumnya Bekasi sudah punya tempat-tempat bersejarah seperti gedung juang  dan tugu serta monumen merupakan peninggalan masa lalu, ada juga dibangun masyarakat setelah kemerdekaan.

“Monumen yang berdiri kokoh tepat di tepi Kali Bekasi, arah timur Stasiun KA Bekasi dan bersebelahan dengan jembatan rel KAI Bekasi Ini merupakan tempat pertempuran pada saat revolusi terjadi peperangan dahsyat,” beber Najamudin Muit, (60), salahbsatu tokoh masyarakat yang tinggal tidak jauh dari lokasi itu.

“Bapak saya menjadi pelaku sejarah peristiwa itu,” tutur Najamudin, yang juga pernah menjabat anggota DPRD Kabupaten Bekasi ini.

Menurut cerita orang tuanya dan sudah dibukukkan, pada 19 Oktober 1945 Komandan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jatinegara, Sambas Atmadinata, menginformasikan kepada Zakaria, Komandan TKR di markas Bekasi (saat ini menjadi gedung PMI Kota Bekasi).

Bahwa akan ada serombongan pasukan Jepang berjumlah 90 orang melintas Bekasi mengunakan kereta api menuju Bandar Udara Kali Jati Subang.

Meski ada beberapa versi soal ini, namun Najamudin mengakui kalau peristiwa itu ada. Dia menceritakan versi pertama, kalau peristiwa itu terjadi saat akan dilakukan pertukaran tawanan perang, di tepi Kali Bekasi.

Sedangkan versi lain, kalau tentara Jepang akan dipulangkan melalui Bandara Kalijati, Subang, Jawa Barat, seperti cerita Najamudin.

Mendapat informasi itu , akhirnya Zakaria memerintahkan Kepala Stasiun Bekasi (tidak terlacak namanya) untuk memindahkan jalur perlintasan kereta dari jalur dua ke jalur satu yang merupakan jalur buntu.

Akibatnya, kereta api yang membawa pasukan Jepang berhenti tepat di tepi Kali Bekasi.
Saat kereta di geledah di temukan banyak senjata api, para pejuang marah.

Walaupun awak kereta menghadang dan memperlihatkan surat perintah jalan dari Menteri Subardjo dan ditandatangani Bung Karno, rakyat Bekasi tetap menggelandang tawanan ke Kali Bekasi

Tak mau ambil risiko, selepas maghrib Zakaria melepaskan tembakan ke arah komandan Jepang tersebut, disusul kemudian oleh suara-suara tembakan lain, perang pun pecah.

Pasukan Jepang berhamburan keluar dari tiga gerbong terdepan mencoba mengambil senjata yang disimpan di gerbong belakang. Posisi pasukan Jepang yang tanpa senjata membuat mereka kalang kabut, beberapa di antara mereka bahkan sempat melarikan diri ke arah Teluk Pucung.

Namun, dalam sekejap 90 orang tentara Jepang berhasil ditumpas, Kali bekasi yang jernih menjadi merah darah. Kejadian ini, membuat pihak Jepang marah besar, lantaran dianggap menyalahi perjanjian damai antara pihak Indonesia dan Jepang.

Soekanto dan Laksaman Meida, pihak Indonesia menyampaikan permohonan maaf kepada Jepang.

Kontributor : Haji Saban

Editor : Deros D.Rosyadi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini