Infobekasi.co.id – Jelang malam hujan kembali menyapa Bekasi. Gemericik air yang jatuh di kaca jendela membawa ingatan kita melayang jauh ke masa kecil, di sebuah kampung kecil damai. Di sana, hujan bukan hanya sekadar air yang turun dari langit, tetapi juga pengantar nostalgia tentang kehangatan keluarga dan kelezatan kudapan desa.
Setiap kali hujan tiba, keluarga di kampung Bekasi selalu menyiapkan tungku kayu bakar di dapur. Aroma kayu bakar yang khas segera memenuhi seluruh ruangan, bercampur dengan aroma tanah basah dibawa oleh angin. Tak lama kemudian, aroma ubi rebus, singkong rebus, dan jagung rebus mulai menggoda indra penciuman.
Ubi rebus buatan nenek paling ditunggu di ruang keluarga. Ubi, singkong, dan jagung yang baru dipanen dari kebun belakang rumah direbus hingga empuk. Rasanya manis alami, tanpa tambahan gula atau pemanis buatan. Setiap gigitan membawa kembali ke masa kecil, saat kita duduk di samping nenek sambil mendengarkan cerita-cerita masa lalu.
Kudapan ini yang paling sering dinikmati bersama keluarga saat usia belia. Kami semua berkumpul di teras rumah. Sambil menikmati jejeran kudapan yang hangat, saling bercerita, tertawa, dan berbagi pengalaman. Momen-momen kebersamaan seperti inilah yang selalu dirindukan.
Kini, meski sudah tidak lagi tinggal di desa. Namun, setiap kali hujan tiba, ingatan tentang kehangatan keluarga dan kelezatan kudapan desa selalu hadir dalam benak. Aroma ubi rebus, singkong rebus, dan jagung rebus seolah menjadi simfoni nostalgia yang abadi.
Kenangan tentang kehangatan keluarga, kelezatan kudapan desa, dan keindahan alam yang masih lestari. Hujan terus mengguyur Bekasi, kita tersenyum sendiri, membayangkan betapa bahagianya jika bisa kembali ke kampung dan menikmati kudapan hangat bersama keluarga tercinta.
Dede Rosyadi
#Kuliner #infobekasi #Bekasi #Hujan #Kudapan








































