Infobekasi.co.id, Bekasi Timur – Di tengah deretan kompleks perumahan dan jalan-jalan padat Bekasi Timur, ada satu nama kampung yang membuat orang tersenyum saat mendengarnya. Kampung Cerewet. Nama ini terdengar lucu, khas Betawi, sekaligus mengundang rasa ingin tahu, bagaimana sebuah wilayah bisa dinamai dengan kata yang berarti bawel atau banyak bicara?
Sebelum menjadi kawasan permukiman padat seperti sekarang, daerah ini dahulu merupakan lahan basah dan rawa yang disebut Situ Cerewet. Berdasarkan catatan dari Komunitas Sejarah Bekasi (KSB) dan arsip lokal, Setu Cerewet menjadi sumber air alami bagi warga sekitar serta lahan pertanian dan perikanan kecil. Airnya mengalir ke saluran-saluran kecil yang kini sudah tertutup jalan dan bangunan.
Namun, seiring pesatnya pembangunan Bekasi pada era 1980-1990-an, rawa dan situ tersebut mulai ditimbun untuk dijadikan lahan perumahan dan akses jalan. Kini, jejak fisik Situ Cerewet hampir tak tersisa. Yang tinggal hanyalah cerita warga tua dan beberapa nama jalan atau gang yang masih memakai nama Cerewet sebagai penanda memori geografis masa lalu.
Kampung Cerewet kini telah menjadi bagian dari jaringan kawasan urban Bekasi Timur, tetapi masih mempertahankan suasana khas kampung. Jalan-jalan sempit, warung kelontong di pojok gang, dan kebiasaan warga berbincang di teras rumah menjadi pemandangan sehari-hari yang jarang ditemui di jantung kota.
Meski begitu, masalah klasik seperti banjir dan genangan air masih menjadi tantangan. Berdasarkan laporan Radar Bekasi dan Pikiran Rakyat (2023), wilayah ini termasuk zona rawan banjir akibat drainase tidak memadai dan berkurangnya lahan resapan air. Pemerintah Kota Bekasi beberapa kali menyalurkan bantuan dan melakukan normalisasi saluran di sekitar Kampung Cerewet.
Dalam sejarah panjang Bekasi, Kampung Cerewet mungkin hanyalah sepotong kecil dari mosaik kota. Namun, nama dan kisahnya menambah warna budaya lokal yang menarik. Di saat banyak kampung lama menghilang tergantikan nama kompleks modern, Cerewet justru bertahan.
Nama ini menjadi simbol masyarakat Bekasi yang egaliter, terbuka, dan hangat dalam berkomunikasi. Seperti arti katanya, orang cerewet bukan hanya banyak bicara, tapi juga peduli, aktif, dan berani menyuarakan pendapat.
Kini, Kampung Cerewet berdiri bukan sekadar sebagai alamat administratif, tetapi sebagai jejak identitas budaya lokal yang menolak hilang di tengah arus urbanisasi.
(Fahmi)
Editor: Deros
#SituCerewet #Infobekasi #Bekasi
*Data: Situ Cerewet dari berbagai sumber































