Balita Kampung Pemulung Bantargebang Obesitas Gegara Sering Konsumsi Susu Kental Manis?
Infobekasi.co.id – Sebanyak 40 balita di Kampung Pemulung, Kelurahan Ciketing Udik, Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi, mendapat pendampingan khusus, salah satunya edukasi tidak memberikan susu kental manis sebagai pengganti konsumsi anak.
Pemilihan lokasi dinilai tepat, sebab fokus ini memperbaiki status gizi anak di wilayah padat penduduk serta keterbatasan makanan sehat. Sasarannya adalah balita dengan kondisi stunting, wasting hingga penderita tuberkulosis (TBC).
Salah satu warga bernama Ida, menceritakan pengalamannya, pernah memberikan susu kental manis kepada cucu pertamanya, yang kini berusia 7 tahun.
“Saya kira kental manis itu sama dengan susu, apalagi rasanya manis dan anak-anak suka,” kata Ida, Rabu, 13 November 2025.
Cucu pertamanya itu telah mengkonsumsi kental manis sejak bayi. Alasannya, karena murah ia menilai produk itu dapat menjadi pengganti susu. Akibat kebiasaan tersebut, Andi kini mengalami obesitas.
“Sudah dicoba dikurangi, tapi Andi malah marah-marah kalau tidak dikasih. Dia bisa minum satu sachet setiap hari,” kaa Ida.
Kepala Puskesmas Ciketing Udik, Nurjanah, mengungkapkan, kondisi ini menjadi contoh nyata bagaimana miskonsepsi gizi dapat berdampak pada kesehatan anak di usia dini.
“Kental manis itu isinya lebih banyak gula. Mungkin dampaknya tidak langsung terlihat sekarang, tapi dari sekarang hingga ke depan akan berdampak pada kesehatan anak,” beber Nurjanah.
Selain penting diingat kepada para ibu, pendampingan ini juga menjadi catatan kader Posyandu serta Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah.
“Kader-kader ini harus tahu mana makanan yang tinggi protein dan baik untuk tumbuh kembang anak, bukan makanan yang hanya mengandung gula,” ucapnya.
Perwakilan Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Diah Lestari Budiarti, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari pendampingan jangka panjang.
“Kami ingin program ini berkelanjutan agar warga merasa selalu didampingi, tidak hanya saat program berlangsung, tetapi juga dalam perubahan kebiasaan sehari-hari,” tutur Diah.
Dengan mengedukasi bahasa yang mudah dipahami, Is percaya penanganan dapat berjalan dan dapat didengar langsung.
“Kalau sekadar datang memberi penyuluhan, biasanya pesan tidak akan sampai. Tapi kalau kader yang berbicara, mereka lebih didengar,” pungkasnya.
Reporter : Fahmi
Editor : Deros
#infobekasi #Bekasi
