Dari Pembakaran Patung Lele hingga Berganti Tugu Bambu Runcing, Sejarah Ikon Bundaran Bulan-Bulan

Infobekasi.co.id – Pergantian ikon di Bundaran Bulan-Bulan, dari Patung Lele dan Kecapi menjadi Tugu Bambu Runcing, bukan terjadi dalam semalam. Proses dimulai sejak 1995 baru menemukan titik temu pada 2017, menyiratkan sejarah panjang konflik simbol dan perjuangan masyarakat Bekasi dalam mencari identitasnya, dari era Orde Baru hingga awal tahun 2000-an.

Kawasan Bundaran Bulan-Bulan Bekasi sejak awal dirancang sebagai ruang simbolik dan landmark utama Kota Bekasi. Sejarawan Bekasi Endra Kusnawan menjelaskan, konflik simbol di bundaran tersebut berkembang seiring perubahan status administratif Bekasi dari kabupaten menjadi kota.

“Di zaman Orde Baru, setiap kota diwajibkan memiliki simbol atau landmark yang diambil dari unsur flora dan fauna,” ujar Endra, Sejarawan Bekasi, saat diwawancarai di Gedung Juang, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Kamis (30/12) lalu.

Kebijakan itu diwujudkan Bupati Bekasi saat itu, Mochammad Djamhari, melalui pembangunan Patung Lele dan Kecapi pada 1995. Pemilihan simbol didasarkan pada kondisi geografis wilayah Bekasi yang kaya akan ikan lele dan buah kecapi.

Namun, menurut Endra, pemilihan tersebut lebih bersifat administratif ketimbang hasil kajian mendalam. Tak lama kemudian, simbol itu menuai penolakan luas dari masyarakat. Alasannya, masyarakat menangkap makna negatif pada kedua simbol tersebut.

“Lele dianggap jorok dan rakus, sedangkan kecapi meski banyak ditemukan, harganya murah. Masyarakat merasa simbol itu tidak mencerminkan orang Bekasi,” jelas Endra.

Penolakan tersebut menunjukkan jarak antara kebijakan pemerintah dengan persepsi masyarakat lokal. Aspirasi penolakan disampaikan melalui surat kepada Bupati Mochammad Djamhari, namun tak mendapat tanggapan. Setelah Bekasi resmi menjadi kota, surat serupa dilayangkan kepada Wali Kota pertama Nonon Sontani.

Pemerintah Kota Bekasi kemudian mengeluarkan Surat Keputusan pembongkaran pada 25 Februari 2001. Namun, hingga satu tahun kemudian, tak ada tindakan konkret yang dilakukan.

Kekecewaan masyarakat memuncak pada Kamis (25/4/2002), usai rapat akbar Badan Kekeluargaan Masyarakat Bekasi (BKMB) di GOR Bekasi. Sebagian peserta rapat bersama Damin Sada, pengurus BKMB sekaligus Kepala Desa Srijaya, Gabus, melakukan aksi demonstrasi dengan membakar ban di bawah patung.

“Setelah rapat selesai dan peserta pulang, sebagian rakyat melakukan aksi demonstrasi bakar ban bersama masyarakat di bawah patung. Dari situ terjadi pembakaran,” ungkap Endra.

Peristiwa pembakaran menjadi titik balik simbolik bagi keberadaan Patung Lele dan Kecapi. Seperti dicatat dalam buku “Sejarah Bekasi Sejak Peradaban Buni Hingga Wayah Gini” karya Endra, sejumlah elemen masyarakat mengklarifikasi bahwa mereka setuju menolak simbol tersebut, namun menyayangkan cara yang dilakukan di luar mekanisme resmi.

Setelah pembakaran, kawasan bundaran ditinggalkan kosong untuk waktu yang cukup lama. Kekosongan itu akhirnya berakhir ketika muncul usulan untuk menjadikan bambu runcing sebagai ikon baru, yang datang dari Drahim Sada, tokoh masyarakat sekaligus Kepala Desa Srijaya yang baru.

“Bambu runcing melambangkan semangat perjuangan dan lambang kota Bekasi yang memuat bambu juga. Itu yang membuat simbol ini lebih diterima,” ujar Endra.

Tugu Bambu Runcing akhirnya dibangun pada 17 Januari 2017 sebagai landmark baru Kota Bekasi. Simbol ini dianggap mampu mewakili aspirasi masyarakat karena melambangkan sejarah perjuangan dan identitas Bekasi sebagai kota patriot.

Pendapat masyarakat pun menyertai penjelasan Endra. Ali (44), juru parkir di kawasan Proyek yang tinggal di Bunga Karang, Kartini, Bekasi, mengatakan simbol lele tidak layak menjadi lambang daerah. “Lele itu rakus, apa saja dimakan. Masa masyarakat Bekasi dilambangkan seperti itu,” ucapnya.

Ali juga menyebutkan, sebelum bambu runcing berdiri, sempat dipasang tugu jam sebagai penanda sementara, menunjukkan pemerintah belum memiliki kesepakatan simbol yang final.

Begitu juga Mamat (66), juru parkir di area Bulan-Bulan yang tinggal di Teluk Pucung, mengingat, kawasan tersebut dulunya hanya berupa bundaran kolam. “Waktu dipasang lele, banyak yang tidak setuju karena lele identiknya rakus,” timpalnya.

Kini, Tugu Bambu Runcing berdiri tegak sebagai ikon yang melambangkan sejarah, identitas, dan semangat perjuangan masyarakat Bekasi. Pergantian ikon ini menjadi pelajaran, bahwa simbol kota tidak hanya sekadar penanda visual, tetapi juga harus mampu menggambarkan nilai, sejarah, dan kesadaran warganya.

(Danu Sahrudin)

Editor : Dede Rosyadi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini