Infobekasi.co.id – Mendengar profesi tambal ban, sebagian orang pasti mengira pemiliknya berasal dari Medan, mengingat mayoritas pelaku usaha ini di Indonesia berasal dari daerah tersebut. Namun di Pangkalan Daong, Pondok Ungu Permai, Perempatan Marakash-Chandrabaga, ada seorang pria asli Bekasi tulen yang menggeluti profesi tersebut, yakni Zahroin atau yang lebih akrab disapa Gepeng, sudah belasan tahun membuka bengkel tambal ban.
“Ya sering sih saya dipanggil Lae (panggilan yang umum digunakan orang Medan khususnya suku Batak), karena buka bengkel tambal ban. Kan biasanya tambal ban identik dengan orang Medan,” ucap Gepeng sambil tersenyum saat berbincang dengan infobekasi, Rabu (7/1).
Meski berasal dari Betawi Bekasi Kaliabang, Gepeng tidak mempermasalahkan panggilan tersebut. Bagi Dia, usaha bengkel tambal ban adalah pekerjaan untuk semua orang tanpa membedakan suku, ras, dan agama.
“Jadi saya banyak nama panggilan. Enggak masalah sih, malahan nambah persaudaraan. Usaha apa pun yang penting halal buat anak istri,” ucap pria berambut ikal gondrong ini.
Sebelum fokus pada usaha tambal ban, Gepeng pernah mencoba berbagai profesi mulai dari menarik becak pada tahun 1990-an, menjadi pengemudi ojek, hingga akhirnya membuka bengkel.
“Dulu sih pertama kali kerja jadi tukang narik becak. Tahun 1990-an kan masih banyak orang yang naik becak. Seiring waktu, becak mulai jarang digunakan, jadi saya berganti jadi pengemudi ojek. Nah, saat saya menetap di Pangkalan Daong dan ada lahan yang bisa dimanfaatkan, saya coba buka bengkel tambal ban dan terus menjalankannya sampai sekarang,” cerita Gepeng tentang perjalanan karirnya.
Usaha tambal ban tidak selalu ramai pengunjung. Apalagi saat musim hujan, kawasan Pangkalan Daong Pondok Ungu Permai kerap mengalami banjir yang membuat jalan depan bengkel tergenang air, imbasnya tidak ada pengendara yang melintas.
“Usaha tambal ban kan tidak tiap hari ada ‘pasien’, hanya kalau ada ban motor yang bocor atau perlu diganti ban saja, baru dapat hasil. Paling sepi itu pas banjir, enggak ada orang lewat. Ya harus sabar saja, namanya juga usaha, kita jalanin aja,” tutur Geoeng yang juga aktif dalam organisasi kemasyarakatan.
Kendati demikian, Gepeng terus berusaha mencari kerjaan sampingan agar penghidupan keluarganya tetap terjaga. Mulai jadi pengemudi ojek online, hingga mengantar orderan barang ke beberapa wilayah bahkan hingga ke Jakarta.
“Kalau saya ngadelin usaha tambal ban saja, kan gak nentu penghasilannya, yaudah saya kadang jadi ojol, nganter-nganter barang, bahkan sampai ke Jakarta malam-malam saya lakonin dah yang penting halal,” kisahnya.
Kerja keras dan keuletan etos kerja Gepeng membuktikan, bahwa tidak semua orang Betawi itu malas. Ia ingin membuktikan, siapa pun dan dari mana pun berasal, jika mau bekerja dan berusaha pasti ada jalan rezeki.
“Enggak semua orang Betawi malas. Hanya sebagian saja mungkin, jadi anggapannya semua orang Betawi malas kerja padahal mah, rasa malas itu bukan hanya orang Betawi saja. Kalau jiwanya malas mah malas aja, mau dari asal mana ge. Tergantung keperibadian orang itu,” tandasnya.
(Dede R)








































