Jelang Ramadan, Kemendagri Minta Pemda Susun Strategi Harga Sembako

Infobekasi.co.id – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengeluarkan imbauan kepada seluruh pemerintah daerah (Pemda) untuk segera menyusun langkah antisipasi mengendalikan inflasi menjelang Ramadan 2026.

Sekretaris Jenderal Kemendagri Tomsi Tohir menegaskan, bahwa lonjakan harga pangan yang kerap terjadi di bulan suci tersebut hanya bisa dicegah melalui perencanaan matang berbasis data historis.

“Kalau sudah memasuki bulan Ramadan, kita tidak akan bisa menangani dengan optimal. Karenanya, antisipasi harus dilakukan sejak sekarang,” ujar Tomsi dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar secara hybrid dari Kantor Pusat Kemendagri Jakarta, Senin (12/1/26).

Rapat tersebut juga menyertakan evaluasi dukungan Pemda terhadap Program 3 Juta Rumah. Tomsi mendorong Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di seluruh daerah untuk segera melakukan rapat koordinasi internal, mengkaji data inflasi tiga tahun terakhir, dan menyusun langkah konkret.

Ia berharap Ramadan tahun ini dapat menjadi bukti kemampuan pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga stabilitas harga. “Sekali-sekali kita ciptakan sejarah: di Ramadan 2026, harga sembako tetap terkendali dan tidak naik,” ucap Ia.

Pemerintah menyoroti sejumlah komoditas pangan strategis yang perlu diperhatikan secara serius, antara lain bawang putih, bawang merah, telur ayam ras, cabai, minyak goreng, dan beras. Tomsi meminta koordinasi yang lebih erat antara kementerian/lembaga teknis, Pemda, dan pelaku usaha untuk menjaga pasokan dan distribusi.

“Kita harus memastikan setiap komoditas tersedia cukup dan dapat sampai ke tangan masyarakat dengan harga yang stabil,” tegasnya.

Data angka inflasi nasional year on year pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,92 persen, masih berada dalam rentang target nasional yaitu 2,5 persen dengan toleransi ±1 persen. Menurut Tomsi, inflasi ideal diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen.

“Inflasi terlalu rendah akan menekan produsen seperti petani dan pekebun, sementara yang terlalu tinggi akan memberatkan masyarakat. Target ideal kita adalah 2,5 persen,” ujarnya.

Meskipun demikian, inflasi bulanan Desember 2025 naik sebesar 0,64 persen, sebagian dipengaruhi oleh dampak bencana alam di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara yang menyebabkan kenaikan harga pangan di daerah terdampak.

“Meski ada musibah, kita tetap berhasil menjaga inflasi dalam batasan aman 1,5 hingga 3,5 persen. Ini merupakan capaian yang patut diapresiasi,” kata Tomsi.

Lebih jauh Tomsi menekankan, pentingnya evaluasi mendalam terhadap daerah-daerah dengan inflasi tinggi yang berlangsung dalam waktu lama. Ia meminta agar laporan inflasi daerah tahun 2025 segera disusun untuk memetakan daerah penyumbang inflasi tinggi dan komoditas penyebabnya.

“Rapat ini bukan sekadar acara formal. Ini untuk menunjukkan upaya dan kemampuan daerah dalam mengelola stabilitas harga,” tutup Tomsi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini