Mengenal Teknik Nganco, Cara Tradisional Warga Bekasi Membaca Arus Sungai

infobekasi.co.id – Kabut tipis masih menggantung di atas permukaan kali Tarumajaya, Bekas,i saat beberapa warga turun perlahan ke tepi air. Di tangan mereka, bambu panjang yang dipasang menyilang menopang jaring berbentuk segi empat. Dengan gerakan terukur, jaring itu ditenggelamkan ke dasar sungai, lalu diangkat cepat ke permukaan. Inilah nganco, cara tradisional warga menjaring ikan telah diwariskan turun-temurun.

Nganco biasanya dilakukan di kobak, sungai dan kali yang diyakin banyak ikan. Air cenderung lebih tenang dan dalam, menjadi tempat favorit ikan berkumpul, mulai dari sepat, betik, gabus, lele, hingga kadang terjaing ular. Saat arus Kali Bekasi meninggi pasca hujan, ikan-ikan kerap mencari perlindungan di kali, sungai hingga ke kobakan, menjadikan ladang rezeki bagi warga mencari ikan.

Peralatan nganco tergolong sederhana. Dua batang bambu disusun menyilang sebagai bingkai, menopang jaring halus yang kuat menahan beban air. Tekniknya pun membutuhkan kepekaan membaca arus. Jaring diturunkan ke dasar, dibiarkan beberapa saat, mengikuti aliran, lalu diangkat cepat agar ikan tak sempat lolos.

“Kalau air lagi keruh habis hujan, biasanya hasilnya lebih banyak,” ujar Jaronah (64), salah seorang warga Setia Asih, Kabupaten Bekasi, Minggu (1/2).

Menurutnya, ikan bakal mencari tempat yang lebih tenang di air, dan di situlah jaring nganco bekerja efektif. Bagi sebagian warga, nganco bukan sekadar hobi, melainkan cara menambah penghasilan.

Hasil tangkapan bisa langsung dijual ke tetangga sekitar atau dibawa pulang sebagai lauk keluarga. Meski tak selalu melimpah, tradisi ini tetap bertahan karena tanpa ongkos, ramah lingkungan, dan tidak merusak habitat ikan.

Namun, perubahan wajah kali/sungai di wilayah  Bekasi memengaruhi hasil nganco. Penyempitan sungai, sedimentasi, serta limbah rumah tangga membuat populasi ikan tak sebanyak dulu. Warga mengaku kini harus lebih sering berpindah masang anco, gua mendapatkan hasil ikan yang banyak.

Di tengah gempuran alat tangkap modern dan perubahan lingkungan, nganco tetap menjadi simbol kedekatan masyarakat dengan sungai. Tradisi ini mengajarkan kesabaran, cara membaca alam, dan memanfaatkan sumber daya tanpa merusaknya.

Banyaknya kali/sungai di Bekasi bukan hanya sekedar aliran air yang membelah kota, tetapi juga ruang hidup menyimpan kearifan lokal. Selama bambu masih ditegakkan dan jaring masih ditebar saat penghujan, tradisi nganco bakal terus menjadi cerita tentang manusia dan sungai yang saling bergantung.

Editor : Dede Rosyadi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini