Tradisi ‘Membelong’ Buah Nangka, Jejak Agraris Orang Bekasi yang Pernah Ada

Infobekasi.co.id – Bagi warga Bekasi, khususnya mereka yang menghabiskan masa kecil sebelum tahun 2000-an, pohon nangka bukan sekadar tanaman peneduh. Ia adalah saksi bisu kejayaan Bekasi sebagai wilayah agraris, di mana setiap jengkal tanah di pekarangan rumah hampir pasti dihuni oleh pepohonan, termasuk pohon nangka yang menjulang tinggi.

Dahulu, Bekasi dikenal dengan tanahnya yang subur. Di wilayah seperti Tambun, Cibitung, hingga sudut-sudut Bekasi Selatan, pohon nangka adalah bagian dari arsitektur rumah kampung. Tidak perlu lahan luas, di samping sumur atau di depan teras, pohon nangka tumbuh dengan batang yang kokoh dan besar.

Keunikan nangka Bekasi tempo dulu adalah buahnya yang sering kali tumbuh di batang utama, bahkan terkadang jika sudah matang, kudu manjat pohonnya. Bocah zaman itu sering kali diminta orang tuanya untuk membungkus (membelong) buah nangka yang masih muda menggunakan karung goni atau plastik bekas, agar tidak diserang lalat buah.

Memetik buah nangka langsung dari pohonnya merupakan hal yang dinanti. Ketika satu pohon berbuah lebat dan matang, aromanya yang kuat akan tercium hingga ke rumah tetangga. Menurunkan nangka besar memerlukan kerja sama, ada yang memanjat, ada yang menunggu di bawah untuk menangkap agar buah tidak pecah menghantam tanah.

Setelah dipetik, nangka tidak langsung habis dimakan sendiri. Ada budaya anteran atau berbagi kepada tetangga. Nangka yang matang sempurna dinikmati bersama di bale bambu, sambil menyesap kopi pahit di sore hari. Sementara nangka yang masih muda (tewel) bisa jadi pelengkap rujak, bahkan menjadi bahan utama sayur lodeh atau sayur asem yang menjadi menu khas di meja makan orang Bekasi.

Di pasar-pasar tradisional seperti Pasar Proyek atau Pasar Kranggan, nangka asal kebun warga Bekasi selalu menjadi primadona. Pohon ini dianggap sebagai “tabungan”. Kayunya yang kuat dan berwarna kuning keemasan sering kali digunakan tukang kayu untuk membuat kusen pintu atau jendela rumah karena ketahanannya terhadap rayap.

Kini, pemandangan pohon nangka yang batangnya dipeluk erat oleh sang pemilik, kian langka. Hamparan kebun berganti menjadi deretan ruko dan perumahan klaster. Suara dahan yang bergesekan ditiup angin berganti dengan bising mesin kendaraan.

Meski Bekasi telah bertransformasi menjadi kota metropolitan, ingatan akan manisnya buah nangka di Bekasi dan aroma getahnya yang lengket di tangan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas orang Bekasi.

Editor: Deros

Foto: H. Saban Jr

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini