Infobekasi.co.id – Akhir-akhir ini wilayah Bekasi seperti di Swiss, lantaran cuacanya dingin dan berkabut. Netizen menyebut fenomena ini dengan sebutan Bekaswiss. Fenomena cuaca ini terjadi akibat tingginya curah hujan, kelembapan udara.
Kabut yang menggantung rendah di pagi hari bukan sekadar pemandangan alam yang indah. Hal itu melalui proses ilmiah yang terukur dalam studi atmosfer. Para ahli meteorologi menjelaskan, pembentukan kabut merupakan hasil interaksi antara uap air, suhu udara, dan dinamika atmosfer yang memenuhi kondisi tertentu.
Menurut Encyclopedia Britannica, kabut pada dasarnya adalah awan yang terbentuk di dekat permukaan tanah. Fenomena ini terdiri dari jutaan tetesan air mikroskopis yang tersuspensi di udara, sehingga secara signifikan dapat mengurangi jarak pandang.
Proses Kondensasi. Proses inti dalam pembentukan kabut adalah kondensasi uap air. Udara di atmosfer selalu mengandung uap air dalam bentuk gas. Ketika udara mencapai titik jenuh (saturasi), uap air tidak lagi dapat bertahan dalam bentuk gas dan berubah menjadi tetesan cair. Kumpulan tetesan inilah yang kemudian tampak sebagai kabut di dekat permukaan tanah.
Proses ini terjadi saat suhu udara turun mencapai titik embun (dew point), yakni kondisi di mana udara menjadi jenuh dengan uap air. Begitu suhu mendekati titik embun, uap air akan mulai mengembun menjadi butiran air yang kasat mata.
Ilmuwan meteorologi menjelaskan tiga jalur utama yang menyebabkan udara menjadi jenuh hingga membentuk kabut, yakni:
– Pendinginan Radiasi (Radiation Fog): Terjadi pada malam yang cerah dengan angin tenang. Permukaan tanah kehilangan panas melalui radiasi, sehingga udara di dekatnya mendingin hingga mencapai titik embun. Ini adalah jenis kabut yang paling umum ditemukan di daratan.
– Adveksi (Advection Fog): Terjadi saat massa udara hangat yang lembap bergerak secara horizontal di atas permukaan yang lebih dingin, seperti tanah atau laut. Suhu udara tersebut kemudian turun hingga jenuh dan membentuk kabut. Fenomena ini sering dijumpai di daerah pesisir.
– Percampuran Massa Udara: Kabut juga dapat terbentuk ketika dua massa udara dengan suhu dan kelembapan berbeda bercampur, sehingga kombinasi keduanya mencapai titik jenuh.
Selain suhu dan kelembapan, pembentukan kabut membutuhkan inti kondensasi (condensation nuclei). Partikel mikroskopis seperti debu, serbuk tanah, atau garam laut berfungsi sebagai “inti” tempat uap air menempel untuk membentuk tetesan cair.
Tanpa partikel-partikel ini, proses kondensasi akan berlangsung jauh lebih lambat meskipun udara sudah mencapai tingkat kejenuhan yang tinggi.
#Kabut #Infobekasi #Cuaca #Bekasi #Sains
Editor: Dede. R








































