Skip to content

Sate Kikil Kong Nata: Legenda Kuliner Tambun Selatan Bertahan Sejak 1967

Infobekasi.co.id – Menyusuri kawasan belakang Pasar Tambun, Kabupaten Bekasi, ada satu nama yang tak lekang oleh waktu di dunia kuliner: Sate Kikil Kong Nata. Berlokasi di Jalan Setiadarma I, tempat ini dikenal sebagai salah satu jajanan tertua dan paling legendaris yang masih bertahan hingga kini, membawa sejarah panjang rasa diwariskan dari generasi ke generasi.

Kong Nata, sang pendiri, kini telah berpulang ke haribaan Tuhan. Namun, nama dan cita rasa kulinernya tetap hidup, dijaga ketat oleh anak-anak serta cucu-cucunya sebagai warisan berharga. Tama, generasi ketiga yang kini ikut meneruskan usaha keluarga, menceritakan awal mula perjalanan usaha kakeknya yang sederhana namun penuh perjuangan.

“Dulu Bapak saya mulai berdagang sejak tahun 1967. Awalnya barang dagangan dipikul berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, baru kemudian menggunakan gerobak dan menetap mangkal di lokasi ini hingga sekarang,” kenang Tama saar berbincang dengan infobekasi, Rabu (20/5/26).

Sejak Kong Nata meninggal dunia pada tahun 2017, tampuk kepemimpinan usaha ini diambil alih sepenuhnya oleh keturunannya. Ada empat orang dari keluarga besar yang kini saling bahu-membahu memastikan Sate Kikil Kong Nata tetap bisa dinikmati para pelanggan setianya. Tama sendiri sempat mencoba peruntungan membuka lapak di belakang kantor Kecamatan Tambun Selatan, namun akhirnya kembali ke lokasi awal untuk melestarikan usaha leluhur.

Agar warisan rasa ini bisa dinikmati dari pagi hingga sore, pembagian jam jualan pun diatur sedemikian rupa. Mulai pukul 07.00 hingga 10.00 WIB, Tama yang melayani pembeli. Dilanjutkan oleh kakak perempuannya, Ibu Sumi, pada pukul 10.00 hingga 13.00 WIB, dan digantikan kembali oleh kakak lainnya hingga sore hari.

“Ibaratnya seperti pembagian shift kerja saja ya,” gurau Tama.

Lebih jauh menegaskan satu hal penting, meski yang berjualan berganti-ganti orang, bahan baku, resep, hingga racikan bumbu rahasia yang digunakan tetap sama persis, tidak ada yang diubah sedikit pun demi menjaga keaslian rasa.

Keistimewaan Sate Kikil Kong Nata terletak pada bahan utamanya, yaitu tetelan kulit sapi yang memiliki tekstur kenyal khas. Tidak lembek, namun juga tidak keras, sensasi mengunyahnya menjadi ciri rasa yang selalu dirindukan pelanggan.

“Dulu, untuk menjamin kualitas, bahan baku kikil ini kami ambil langsung dari tempat pemotongan hewan di daerah Matraman, Jakarta,” tambah Ibu Sumi, anak pertama Kong Nata yang kini menjadi penjaga utama resep asli keluarga.

Menyisir sejarah harga, di masa-masa awal sang ayah merintis usaha, seporsi 10 tusuk sate kikil hanya dibanderol Rp1.000 saja. Proses pembuatannya pun dilakukan dengan ketelatenan tinggi, tetelan masih menempel pada kulit sapi direbus lama hingga matang sempurna, dipotong-potong sesuai ukuran pas, dibumbui dengan rempah pilihan, ditusuk, lalu dibakar hingga mengeluarkan aroma sedap yang menggoda.

Memasuki tahun 1980-an, Kong Nata yang saat itu masih berdagang dengan cara dipikul namun sudah menetap mangkal di belakang Pasar Tambun, menaikkan harga menjadi Rp3.000 untuk 10 tusuk sate. Di era ini pula, inovasi kecil dilakukan dengan mulai menyediakan nasi uduk sebagai pendamping makan sate yang pas dan mengenyangkan.

Hingga puluhan tahun berlalu, Ibu Sumi beserta adik-adiknya tetap konsisten meneruskan jejak sang ayah. Menu andalan mereka tidak berubah: sate kikil dengan bumbu warisan leluhur, lengkap dengan nasi uduk yang masih dikukus dan dibungkus menggunakan daun pisang. Aroma wangi daun pisang yang menyatu dengan nasi dan bumbu sate menjadi ciri khas yang membuat siapa saja yang lewat pasti tergoda untuk mampir.

Bagi warga Tambun Selatan dan sekitarnya, Sate Kikil Kong Nata bukan sekadar tempat makan, melainkan saksi sejarah kuliner yang telah melewati masa demi masa, dan tetap berdiri kokoh menjaga rasa asli Bekasi yang otentik.

(H.Saban Jr)

Editor: Dede R

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *