infobekasi.co.id – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disdagperin) Kota Bekasi menyiapkan sejumlah langkah alternatif guna mengantisipasi lonjakan harga bahan baku impor, salah satunya kedelai, yang kini semakin terasa dampaknya di pasar.
Kepala Seksi Analis Perdagangan Disdagperin Kota Bekasi, Eko Wijatmiko, menjelaskan, salah satu solusi utama yang kini didorong adalah memperkuat peran kedelai lokal agar mampu bersaing dan memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.
“Kami melakukan pemantauan harga secara rutin, menggelar operasi pasar, memfasilitasi distribusi, sekaligus mendorong pemanfaatan kedelai lokal untuk menopang ketahanan pangan di daerah,” kata Eko Wijatmiko saat dikonfirmasi Infobekasi.co.id, Kamis (21/5/2026).
Menurutnya, kenaikan harga bahan baku ini merupakan dampak dari fenomena ekonomi global yang memerlukan perhatian serius dan penanganan terpadu. Oleh karena itu, diperlukan koordinasi yang erat antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat demi menstabilkan harga di tingkat konsumen.
“Pemerintah Kota Bekasi terus berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan. Namun perlu diketahui, pemerintah daerah tidak memiliki wewenang untuk melakukan intervensi harga atau memberikan subsidi langsung terhadap harga kedelai,” tegasnya.
Lebih lanjut Ia menyampaikan, ketidakstabilan pasokan di pasar global telah memicu kenaikan biaya bahan baku impor masuk ke Indonesia hingga mencapai 10 persen. Kondisi ini membuat harga kedelai di pasaran kini menyentuh angka Rp15.000 per kilogram.
“Kenaikan harga bahan baku tahu dan tempe mencapai sekitar 10 persen. Kondisi ini dipicu oleh melemahnya nilai tukar rupiah serta terganggunya rantai pasokan global. Saat ini, harga kedelai berada di kisaran Rp13.000 hingga Rp15.000 per kilogram,” tutup Eko.
(Fahmi/DR)





























