Skip to content

Gen Z Penghulu Nikah di Tambun, Jadi Pusat Perhatian Tamu Undangan

infobekasi.co.id – Di mata banyak orang, penghulu sering dibayangkan sebagai sosok berusia lanjut, berwibawa, dan penuh keseriusan. Namun gambaran itu perlahan berubah di Kantor Urusan Agama (KUA) Tambun Selatan.

Di sana, ada sosok muda kelahiran 1999, Husam Al Fatah, yang menjalankan tugas mencatat dan memimpin akad nikah dengan gaya khas generasinya, namun selalu menjadi pusat perhatian.

Bagi Husam, momen akad nikah yang seharusnya sakral dan khidmat itu sering kali berbalut suasana hangat dan penuh canda. Sebagai petugas pencatat pernikahan, Ia kerap menjadi sasaran perhatian, mulai dari bisik‑bisik tamu undangan, sapaan akrab, hingga permintaan berfoto yang datang dari mana saja.

“Masih muda sekali ya penghulunya. Sudah berkeluarga atau belum?,” begitulah kalimat yang kerap terdengar saat Ia berdiri di hadapan mempelai dan para tamu.

Lulusan UIN Jakarta ini mengaku sudah terbiasa dengan hal itu. Usai memimpin prosesi akad, Husam selalu diminta berfoto bersama teman‑teman mempelai wanita. Bahkan para ibu‑ibu yang hadir pun tak mau kalah, sibuk mengeluarkan ponsel untuk ikut berfoto bersama.

“Mungkin karena saya masih berusia muda, jadi lebih mudah didekati,” ujar Husam dengan senyum santai.

Di balik kesan yang menyenangkan itu, ada beberapa pengalaman yang tak terlupakan dari berpindah dari satu lokasi pernikahan ke lokasi lain. Salah satu hal yang sering Ia rasakan adalah dampak berantai dari jadwal yang padat.

“Kalau saja di tempat pertama kedatangannya sudah terlambat, maka di lokasi‑lokasi berikutnya pun pasti ikut terlambat,”cerita pria berkacamata ini yang yang jebolan Pondok Pesantren Yapink Tambun Selatan.

Namun ada satu hal yang menarik dan membuatnya tersenyum sendiri, meski terlambat tiba di lokasi berikutnya, Ia mengaku tak pernah sekalipun mendapat teguran atau protes dari pihak keluarga penyelenggara.

“Alhamdulillah, semuanya tetap berjalan lancar saja. Coba saja kalau yang datang petugas yang sudah berumur, mungkin ceritanya akan berbeda,” candanya.

Meski kerap disambut antusias berlebih, Husam sadar betul batas perannya dalam setiap acara. Ada kalimat yang sering ia ucapkan dengan nada lirih namun penuh makna.

“Kehadiran kami sangat dibutuhkan dan dicari‑cari sebelum akad nikah berlangsung. Namun begitu prosesi selesai, penghulu langsung dilupakan dan tak diperhatikan lagi. Semua mata dan perhatian langsung beralih sepenuhnya kepada pasangan pengantin,” seloroh Husam.

Husam Al Fatah membuktikan, anak muda pun mampu mengemban tugas berat dan suci ini dengan baik, sekaligus membawa warna baru di duni penghulu.

(Saban Jr/ded)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *