Tradisi Tahwee di Cibarusah, Ritual Berjalan di Atas Bara Api Penyucian Diri
Infobekasi.co.id – Lantunan doa dan aroma dupa menyelimuti pelataran Klenteng Ngo Kok Ong, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, pada Rabu (8/7) malam. Di tengah temaram malam hari kedua perayaan ulang tahun atau shejit ke‑342 tempat ini. Sebuah ritual yang sakral dan penuh ketegangan menyedot perhatian ratusan pasang mata. Yaitu Tahwee, tradisi berjalan di atas bara api.
Bagi masyarakat etnis Tionghoa setempat, Tahwee rutin digelar setiap perayaan shejit bukan sekadar pertunjukan kekebalan diri. Di balik panasnya hamparan arang membara, tersimpan prosesi spiritual mendalam bermakna penyucian jiwa, penolak bala, serta sarana membuang energi negatif dan pengaruh buruk.
Sebelum lintasan bara api sepanjang sekitar tujuh meter itu dipijak, pemimpin ritual terlebih dahulu memimpin doa. Dengan penuh kekhusyukan, mantra‑mantra dilantunkan beriringan dengan kibasan bendera beraksara suci guna memohon perlindungan dan keselamatan bagi seluruh peserta.
Setelah rangkaian doa selesai, prosesi yang mendebarkan pun dimulai. Barisan peserta bergerak beriringan, dipimpin oleh pembawa bendera dan patung suci atau rupang Dewa Ngo Kok Ong, kemudian diikuti para peserta dengan yakin melangkah di atas bara api menyala. Kesakralan Tahwee ini sekaligus menjadi bukti harmoni yang inklusif, di mana siapa saja boleh turut serta hadir, tanpa memandang sekat suku maupun agama.
Anggota Paguyuban Pelestari Budaya dan Tahwee Jabodetabek, Rudi Supriatna, menjelaskan, makna mendalam dari warisan leluhur ini sangat universal. Kunci utama agar selamat dan tak terluka di tengah jilatan api, menurutnya, terletak pada ketulusan niat serta keyakinan yang bulat.
“Ritual ini bertujuan untuk penyucian diri, membuang hal‑hal negatif, serta memohon keselamatan. Maknanya mirip dengan tradisi ruwatan dalam budaya Jawa. Sebenarnya tidak hanya masyarakat Tionghoa, siapa saja boleh mengikuti Tahwee ini,” tutur Rudi saat ditemui di lokasi, pada Rabu (8/7) malam.
Sementara itu, Wakil Ketua Paguyuban Pelestari Budaya dan Tahwee Jabodetabek, Alex Gunawan, menjelaskan, panjang lintasan arang yang digunakan umumnya berkisar antara tiga hingga sembilan meter, disesuaikan dengan ketersediaan lahan dan jumlah bahan bakar di lokasi.
“Tahwee ini biasanya memang digelar bertepatan dengan perayaan shejit. Patung suci atau rupang yang dibawa dalam prosesi umumnya adalah milik klenteng yang menjadi tuan rumah kegiatan,” tambah Alex.
Meski pelaksanaannya cukup fleksibel, tradisi Tahwee di Indonesia memiliki catatan panjang. Pada tahun 2003 silam, pernah digelar prosesi Tahwee berskala besar dengan lintasan ekstrem mencapai panjang 16,4 meter. Rekor tersebut hingga kini masih tercatat resmi di Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai lintasan Tahwee terpanjang yang pernah ada.
Melalui perayaan shejit ke‑342 ini, Klenteng Ngo Kok Ong Cibarusah kembali mengingatkan, tradisi warisan leluhur tak sekadar berfungsi menjaga nilai spiritual umat, namun juga berperan erat dalam memperkuat ikatan toleransi di tengah keberagaman masyarakat Bekasi.
(Ari/dr)


