Kompleks Makam K.H. Noer Alie: Jejak Perjuangan dan Cagar Budaya di Ujung Harapan
info bekasi.co.id – Di Kelurahan Ujung Harapan, Kecamatan Bekasi Utara, terdapat Kompleks Makam K.H. Noer Alie. Tempat ini telah ditetapkan sebagai Objek Diduga Cagar Budaya, bukti pengakuan atas nilai sejarah, keagamaan, dan budaya yang terkandung di dalamnya.
K.H. Noer Alie lahir pada tahun 1905 dan wafat pada tahun 1992. Ia dikenal sebagai ulama Betawi Bekasi, pejuang kemerdekaan, serta salah satu tokoh pendidikan Islam berpengaruh di wilayah Bekasi. Sepanjang perjalanan hidupnya, Noer Alie tidak hanya menyebarkan ajaran Islam di Bekasi, tetapi juga berperan aktif mendukung perjuangan Indonesia meraih kemerdekaan.
Dedikasinya juga tercatat melalui pendirian dan pengembangan pondok pesantren Attaqwa di Jumalang, kini Ujungharapan, yang hingga kini menjadi salah satu pusat pembinaan generasi muda dan pendidikan Islam yang di wilayah tersebut.
Di dalam kawasan kompleks makam, tidak hanya terdapat makam KH Noer Alie dan keluarganya, ada juga beberapa murid yang khidmat kepadanya hingga akhir hayat. Tepat di depan makam ada mesjid albaqiyatussolihat, yang kerap dipakai pasa santriwati untuk beribadah, ada juga ruang pengajian, serta fasilitas penunjang kegiatan keagamaan dan pendidikan lainnya.
Kompleks ini kerap menjadi tujuan ziarah yang ramai dikunjungi, baik oleh warga sekitar maupun masyarakat dari berbagai daerah di luar Kota Bekasi, terutama pada malam Jumat. Kunjungan biasanya semakin meningkat pada hari-hari besar Islam; Isra Mi’raj dan maulid, maupun peringatan haul KH Noer Alie.
Sebagai situs bernilai, Pemerintah Kabuaten Bekasi berupaya melakukan pemeliharaan, perawatan, dan pelestarian kawasan ini. Langkah ini diambil guna menjaga warisan budaya dan sejarah daerah, sekaligus memastikan Kompleks Makam K.H. Noer Alie tetap menjadi tempat yang layak untuk dikunjungi, ziarah, pengingat bukti sejarah perjuangan dan pengembangan Islam di tanah Bekasi.
Bagi masyarakat setempat, keberadaan kompleks ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol persatuan, keteladanan, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan K.H. Noer Alie. Masyarakat meyakini ada keberkahan saat berziarah.
(ded)


