Mengenal Haji Djole, Jawara Pejuang dari Kampung Sepatan Rawalumbu
Infobekasi.co.id – Haji Djole, nama asli Sa’adah bin Haji Sulaeman atau akrab dipanggil Eman, lahir di Kampung Sepatan, Distrik Bekasi, tahun 1905. Ia berasal dari keluarga terpandang yang memiliki pengaruh di wilayah Kampung Sepatan yang terletak di Kelurahan Sepanjang Jaya, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Menurut catatan penggiat sejarah Bekasi, Endra Kusnawan dalam bukunya Pejuang Bekasi Era Perang Revolusi, rumah orang tua Haji Djole menjadi tempat persinggahan dan pertemuan rahasia para pejuang kemerdekaan.
Haji Djole sendiri tampil sebagai pemimpin perlawanan yang bergerak aktif di Bekasi. Ia memiliki kakak bernama Haji Saadih Pardia yang pernah menjabat Camat Setu, Pebayuran, hingga Cibitung. Salah satu cucunya adalah Akhmad Zurfaih, yang kelak menjabat Wali Kota Bekasi periode 2003-2008.
Kiprah Haji Djole begitu mencolok hingga masuk dalam catatan intelijen Belanda. Laporan tanggal 26 Januari 1946 menyebutnya sebagai tokoh yang banyak merugikan pasukan Inggris dan Belanda, berpusat di Bekasi dengan pengaruh yang membentang hingga Pekayon, Teluk Pucung, dan Karang Congok.
Karena sulitnya ditangkap, namun dampak dari aksinya membuat Belanda pusing tujuh keliling, membuat Koran berbahasa Belanda Nieuwe courant yang terbit pada 4 Juli 1949 menyebutnya sebagai Bende van mysterieuze Hadji Djoleh (Gang Misterius Haji Djole).
Catatan lain pada 7 Maret 1946 mencatat ia menjadi tangan kanan Pak Matjan dari Cibarusah, sekaligus bagian dari jaringan perjuangan Haji Darip di Klender.
Bagi penjajah, Haji Djole dilabeli perampok atau begundal, jawara yang bikin resah penjajah. Namun bagi masyarakat Bekasi, Dia sosok jawara pembela tanah air sekaligus pejuang yang berani mempertahankan tanah kelahirannya dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari para penjajah.
Kiprahnya ini juga diabadikan layar lebar, peran tokoh Haji Djole turut ditampilkan dalam film Singa Karawang Bekasi, kisah perjuangan KH Noer Alie dan para pejuang lokal lainnya.
Setelah kemerdekaan, saat Jenderal Abdul Haris Nasution mendirikan Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IP-KI) pada 20 Mei 1954, cabang Bekasi berkembang pesat.
Organisasi ini diisi oleh mantan pejuang laskar dan tentara yang masih memiliki wibawa di tengah masyarakat. Haji Djole dipercaya duduk sebagai pengurus bersama M. Husein Kamaly, M. Nausan, dan Lukas Kustaryo.
(ded)


