Dari Mesjid Al-Mujahidin hingga Pesantren Al-Baqiyatus Sholihat, Jejak “Koridor Pejuang” di Cibarusah
Infobekasi.co.id – Wilayah Cibarusah, Kabupaten Bekasi, ada jejak sejarah perjuangan kemerdekaan yang nyaris terlupakan. Membentang sebuah jalur penghubung antara Mesjid Al-Mujahidin hingga Pondok Pesantren Al-Baqiyatus Sholihat di Cibogo, yang layak disebut sebagai “Koridor Pejuang”.
“Pada tahun 1945, Mesjid Al-Mujahidin bukan sekadar tempat ibadah. Bangunan ini menjadi pusat gravitasi perlawanan rakyat,” tutur Agah Handoko, penggiat Sejarah Bekasi sekaligus ketua Komunitas Historia Bekasi.
Di sini, masih kata Agah, Laskar Hizbullah ditempa kemampuan militer sekaligus pembinaan spiritualnya. Ratusan pemuda dari berbagai penjuru Jawa berkumpul, berlatih bela diri, menyusun strategi, dan mengikrarkan janji setia: merdeka atau mati.
“Secara historis, masjid ini adalah cikal bakal kekuatan rakyat yang menjadi pondasi kokoh perjuangan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini,” jelasnya.
Tak jauh dari sana, di kawasan Cibogo, berdiri Pondok Pesantren Al-Baqiyatus Sholihat. Tempat ini dikabarkan menjadi markas pemikiran yang digawangi tokoh besar KH. Raden Ma’mun Nawawi, atau yang akrab disapa Mama Cibogo.
“Ia bukan hanya ulama yang disegani, melainkan pemikir produktif yang melahirkan puluhan karya tulis yang menjadi rujukan umat,” beber Agah.
Hubungan erat antara Masjid Al-Mujahidin sebagai pusat gerakan fisik dan Pesantren Al-Baqiyatus Sholihat sebagai pusat pemikiran melahirkan ekosistem perjuangan yang utuh. Di sinilah perpaduan sempurna antara otak dan otot, doa dan senjata menyatu untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pesantren Al-Baqiyatus Sholihat yang masih berdekatan dengan Mesjid Al Mujahidin, kini ditetapkan sebagai bangunan Objek Diduga Kawasan Cagar Budaya sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010, bangunan-bangunan bersejarah ini berisiko dipugar sembarangan atau dihancurkan demi kepentingan ekonomi bisnis.
Sepanjang jalur Kampung Cibogo hingga Kampung Babakan sejauh lebih dari satu kilometer, terdapat satu bangunan Cagar Budaya, empat bangunan Obyek Diduga Cagar Budaya, serta makam para ulama dan pejuang kemerdekaan,” ujarnya
“Semua ini kini terancam tergusur seiring rencana pelebaran Jalan KH. R. Ma’mun Nawawi hingga Pasar Cibarusah, yang sebelumnya disampaikan oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan mantan Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang,” beber Agah.
Sebagai solusi agar pembangunan berjalan tanpa memusnahkan sejarah, diusulkan agar rencana pelebaran jalan dialihkan ke jalur alternatif mengikuti saluran irigasi dari Kampung Cigutul menuju Kampung Gandaria, hingga kembali ke titik akhir di Pasar Cibarusah.
“Opsi ini dinilai sangat memungkinkan. Selain masih tersedia banyak tanah milik negara di sepanjang rute tersebut, warga dan pengembang kawasan perumahan sekitar pun diyakini akan turut mendukung upaya pelestarian ini,” nilai Agah.
Menurutnya, sudah saatnya Pemerintah Kabupaten Bekasi beserta Tim Ahli Cagar Budaya mengambil langkah tegas sehingga jejak sejarah tidak tenggelam.
“Mari kita jaga “Koridor Pejuang” ini. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya yang memiliki banyak pabrik dan gedung tinggi, melainkan bangsa yang mampu menjaga ingatan dan merawat akar sejarahnya sendiri,” pungkasnya.
(ded)


