Merah Putih Hampir Hilang dari Jalan, Apa Sebenarnya Terjadi?
Infobekasi.co.id – Jika nasionalisme diukur dari seberapa terpanggil pemilik kendaraan memasang bendera Merah Putih, mungkin sekitar 90 persen lebih banyak yang tidak melakukannya.
Setidaknya itulah potret yang terlihat di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Dari ribuan kendaraan yang lalu lalang di Ibu Kota, nyaris tak ada yang berkibarkan Merah Putih.
Padahal, bendera sangat mudah didapat. Hampir di setiap pinggir jalan banyak dijual dengan berbagai ukuran, mulai yang dibentangkan di tali hingga yang kecil untuk dipasang di kendaraan.
Ironisnya, sejak awal Agustus hingga jelang HUT RI ke-81, penjualan sangat sepi. Seperti diakui Heru Sucipto, penjual bendera di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, dagangannya tak sampai 10 buah laku terjual.
Bahkan balik modal pun belum tercapai. Penjual keliling lainnya pun mengaku kesulitan menawarkan bendera.
Apakah ini tanda nasionalisme sedang layu? Jawabannya tentu tak sesederhana itu. Nasionalisme memang tak hanya diukur dari selembar kain.
Yang tak memasang belum tentu tak cinta tanah air, dan yang memasang belum tentu mengamalkan nilai kebangsaan.
Namun gejala ini tetap tak boleh dianggap remeh. Bendera adalah simbol sejarah, pengorbanan, persatuan, dan harga diri bangsa. Memasangnya di bulan kemerdekaan adalah ekspresi sederhana kebersamaan sebagai bangsa.
Dulu, suasana berbeda. Sepuluh hingga dua puluh tahun lalu, masuk bulan Agustus, Merah Putih tampak menghiasi mobil, bus, angkot, truk, hingga sepeda motor. Kini, kendaraan justru tampak bersih dari simbol kebangsaan, lebih banyak menampilkan logo klub, stiker komunitas, atau gambar lain.
Apakah ini bentuk protes? Belum tentu. Kita harus membedakan antara negara, pemerintah, dan bangsa. Pemerintah boleh berganti, dikritik, dipercaya atau tidak. Namun Indonesia dan Merah Putih tak seharusnya ikut ditinggalkan hanya karena kecewa kepada penguasa.
Bisa jadi minimnya bendera adalah ekspresi diam rakyat yang sedang lelah. Kehidupan yang makin berat, harga naik, lapangan kerja sulit, keadilan terasa jauh, dan perilaku elite yang jauh dari keteladanan. Dalam keadaan seperti itu, perayaan kemerdekaan terasa kurang bermakna.
Rakyat mungkin bertanya: kemerdekaan apa yang dirayakan jika hidup masih penuh tekanan? Jika demikian, bendera yang sedikit bukan berarti rakyat membenci Indonesia, melainkan kecewa pada tata kelola negaranya.
Ini pesan penting bagi pemerintah. Jangan hanya menyuruh rakyat memasang bendera sementara penguasa mengoyak rasa keadilan. Jangan hanya meminta cinta tanah air, sementara negara belum sepenuhnya hadir melindungi dan menyejahterakan rakyat.
Nasionalisme tak bisa sekadar diperintah dari atas. Ia harus dirawat dengan keadilan, keteladanan, kesejahteraan, dan rasa memiliki.
Memang bendera masih banyak terpasang di gedung, perumahan, dan kampung. Namun sebagian besar itu karena imbauan dan instruksi dari kelurahan hingga RT/RW.
Pemasangan karena perintah berbeda maknanya dengan bendera yang dibeli sendiri dan dipasang dengan bangga atas kesadaran sendiri. Yang satu lahir karena kewajiban, yang lain lahir dari hati.
Karena itu, pemerintah jangan buru-buru menuduh rakyat tak nasionalis. Introspeksilah: mengapa kebanggaan terhadap simbol negara makin pudar? Mengapa kemerdekaan terasa hanya seremonial?
Di sisi lain, rakyat pun perlu diingatkan: kekecewaan kepada pemerintah jangan berubah menjadi sikap tak peduli terhadap bangsa. Pemerintah boleh dikritik, pejabat yang salah harus dilawan, kebijakan yang merugikan wajib diperbaiki.
Namun Merah Putih tetap milik kita semua, bukan milik presiden, menteri, atau partai tertentu.
Memasang bendera kecil di kendaraan mungkin tampak sepele. Namun dari hal-hal kecil itulah rasa kebangsaan dipelihara.
(Toto Izul Fatah)
Editor: Ded


