Skip to content

KH Raden Ma’mun Nawawi: ‘Penjaga Langit’ dari Cibogo Tak Pernah Membungkuk pada Kekuasaan

Infobekasi.co.id – Dalam sejarah ulama Nusantara, khususnya di Bekasi, nama KH Raden Ma’mun Nawawi atau yang akrab disapa Mama Cibogo menempati kedudukan unik sekaligus istimewa.

Pengasuh Pesantren Al-Baqiyatush Sholihat di Cibarusah, Kabupaten Bekasi ini bukan sekadar pendidik, melainkan ahli ilmu falak yang menjunjung tinggi integritas ilmiah.

Keteguhannya memegang prinsip perhitungan hisab dan pengamatan rukyat seringkali menempatkannya pada posisi berbeda dengan penetapan hari raya versi pemerintah.

Bagi Mama Cibogo, ilmu falak bukan sekadar hitungan administratif, melainkan amanah ilahi. Ketika pemerintah menetapkan hari raya berdasarkan sidang isbat, beliau kerap memiliki ketetapan tersendiri,  bukan karena membangkang, melainkan karena kedalaman sanad ilmu dan keyakinan atas akurasi perhitungannya.

Ia berpedoman dengan prinsip, “Al-haqqu yu’la wala yu’la ‘alaih”, yakni, kebenaran itu tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya.

Keteguhan itu sempat disalahpahami rezim Orde Baru. Saat murid-murid Mama Cibogo di sepanjang Jawa Barat merayakan Idul Fitri pada hari berbeda dengan pemerintah, aliran listrik di wilayah-wilayah tersebut kerap dipadamkan guna membatasi kegiatan takbiran. Namun, Mama Cibogo tak bergeming.

Sikap kemandiriannya juga terlihat dari tidak tunduk pada keputusan organisasi besar. Meski beribadah dengan corak Nahdlatul Ulama dan konon merupakan murid kesayangan KH Hasyim Asy’ari, penetapan hari raya kerap beriringan dengan Muhammadiyah.

Di waktu lain, justru berbeda dengan Muhammadiyah dan sejalan dengan NU. Semata-mata murni atas dasar perhitungan ilmiah, bukan ikut-ikutan institusi.

Agah Handoko, Penggiat Sejarah Bekasi sekaligus Ketua Komunitas Historia Bekasi, menuturkan tentang sosok Mama Cibogo, soal berpegang teguh pada prinsip.

“Keberanian untuk berbeda di tengah tekanan publik adalah ciri ulama yang telah selesai dengan urusan dunianya. Mama Cibogo mengajarkan, menjadi religius berarti juga harus menjadi ilmiah. Persatuan tak harus berarti keseragaman. Menghormati pemerintah itu perlu, namun menghormati kebenaran ilmiah yang diyakini secara spiritual adalah bentuk ketakwaan yang lebih tinggi,” papar Agah.

Menurut Agah, ada beberapa alasan mengapa Mama Cibogo berani berbeda, yakni Ia menguasai kitab falak klasik dan menyinkronkannya dengan pengamatan rukyat yang ketat, meyakini penentuan waktu ibadah adalah ranah ilmu agama, bukan kebijakan birokrasi, serta tak ikut arus hanya demi terlihat seragam jika hilal belum memenuhi kriteria syar’i.

(ded)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *