Sejarah yang Terkubur di Bawah Beton: Dari Landhuis Pondok Gedeh hingga Berubah Jadi Mal
Infobekasi.co.id – Mal Pondok Gede sudah tidak asing bagi warga Jakarta dan Bekasi, apalagi bagi yang suka berbelanja. Namun belum banyak yang tahu, nama kawasan itu dulunya diambil dari sebuah bangunan kolonial yang kini telah lenyap bernama Landhuis Pondok Gedeh (Rumah Besar Pondok Gede).
Menurut penuturan Agah Handoko, Penggiat Sejarah sekaligus Ketua Komunitas Historia Bekasi, Landhuis ini didirikan sekitar tahun 1775 oleh pendeta Belanda bernama Johannes Hooyman. Bangunan bergaya Indis perpaduan arsitektur Belanda dan Nusantaramemiliki serambi terbuka bergaya joglo di lantai satu dan bagian depan bertingkat dua bergaya tertutup khas Belanda.
“Lantaran ukurannya yang sangat besar, penduduk menyebutnya ‘Pondok Gede’, kemudian menjadi nama resmi wilayah tersebut, meski kepemilikannya berpindah tangan, termasuk kepada saudagar Yahudi Polandia, Leendert Miero,” tutur Agah.
Meski memiliki nilai sejarah yang tak terbantahkan, nasib Landhuis berakhir tragis. Pada tahun 1992, meski sempat direncanakan untuk dilestarikan menjadi taman rekreasi, kepentingan bisnis dan ekonomi ternyata lebih mendominasi.
Bangunan yang telah berdiri lebih dari 217 tahun itu akhirnya dibongkar total. Di atas lahan bekas itu kemudian dibangun Plaza Pondok Gede, yang kini dikenal sebagai Mal Pondok Gede.
Pembongkaran ini terjadi, masih kata Agah, padahal seharusnya sudah ada perlindungan dari Undang-Undang Kepurbakalaan. Kini tak ada lagi jejak fisik yang tersisa, hanya nama yang tetap abadi.
“Kisah lenyapnya Landhuis Pondok Gedeh menjadi memoar pahit tentang bagaimana warisan sejarah bisa tergeser oleh ambisi pembangunan ekonomi,” ucapnya.
Masih menurut Agah, lenyapnya Landhuis Pondok Gedeh menjadi tantangan, betapa beratnya pelestarian cagar budaya di tengah arus deras modernisasi dan pembangunan perkotaan.
“Sebuah kesadaran, bahwa sejarah yang tak dijaga, meskipun seberharga apa pun, sangat rentan untuk dikubur di bawah fondasi beton dan lantai keramik pusat perbelanjaan,” tandas Agah.
(ded)


