Kisah Mayor Sambas dan Zakaria Burhanudin: Saat Komandan Menodongkan Pistol, Lalu Memeluk Anak Buahnya
Infobekasi.co.id – Ketegangan tak berakhir setelah pembunuhan 25 tentara Sekutu-Inggris di belakan Tangsi Polisi Bekasi (sekarang Polres Metro Kota Bekasi) pada awal awal Desember 1945.
Setelah peristiwa itu, Komandan Batalyon V Bekasi Mayor Sambas Atmadinata, mendatangi anak buahnya, Letnan Dua Zakaria Burhanuddin. Amarah membuncah karena Zakaria telah melanggar perintah langsung.
“Mayor Sambas memanggil Letda Zakaria, di dalam ruangan, Sambas sudah siap menembak Zakaria lantaran marah besar terhadap tindakan Zakaria,” ujar Ali Anwar, Sejarawan Bekasi, saat berbincang di Kampung Tugu, Bekasi Timur, Minggu (16/8/26).
Namun Zakaria tak gentar. Ia menjelaskan alasannya, tindakan itu semata-mata dilandasi semangat mempertahankan wilayah Bekasi yang saat itu dalam kondisi sangat rawan.
“Silakan tembak,” ujar Zakaria dengan tenang setelah mengemukakan argumentasi di hadapan Mayor Sambas.
Pistol sudah mengarah ke dada Zakaria. Namun peluru batal diletuskan. Alih-alih menembak, Mayor Sambas justru meletakkan senjatanya dan langsung memeluk Zakaria. Dua pejuang itu berpelukan sambil meneteskan air mata.
“Ya sudah. Masalah ini biar saya yang urus. Soal bagaimana pertanggungjawaban saya kepada atasan, itu bagaimana nanti saja,” tutur Mayor Sambas kepada Zakaria, seperti diceritakan Ali Anwar.
Diketahui, keduanya merupakan jebolan didikan militer Jepang, Heiho. Mereka bersama-sama menjadi perwira operasional angkatan pertama yang mendirikan komando Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di wilayah Jakarta-Bekasi tahun 1945.
Amarah Mayor Sambas luntur menyadari bahwa di balik pembangkangan itu, ada kesetiaan yang sama besarnya, yakni kesetiaan kepada tanah air, bangsa dan negara.
(ded/foto:ist)


