Ali Anwar: Sejarah Adalah Kunci Identitas Kultural Daerah
Infobekasi.co.id – Sejarah bagi sebagian orang mungkin terdengar membosankan. Namun bagi Ali Anwar, sejarah adalah “mainan yang mengasyikkan”.
Ia menelusurinya ke ceruk terdalam, mengupas lapisan masa lalu dengan penuh kesabaran. Sejak remaja, Ali sudah terpikat cerita-cerita sejarah. Kisah tentang Bekasi tempo dulu yang dituturkan orang-orang tua di kampungnya membangunkan imajinasinya.
Suatu ketika, Ali muda merasa kecewa menyadari fakta bahwa Bekasi kurang diakui dalam peta kebudayaan Nusantara dan sejarah pergolakan kemerdekaan.
Sejak itu, dirinya bertekad mengabdikan diri mengumpulkan serpihan sejarah Bekasi yang terserak.
“Waktu itu, K.H. Noer Ali memberikan dorongan kepada saya untuk mendalami ilmu sejarah. Katanya, harus ada orang Bekasi yang menulis sejarah kampungnya sendiri,” kenang Ali, seperti dikutip dalam catatan Ali Anwar, Selasa (25/8/26).
Dorongan dari tokoh masyarakat Bekasi, K.H. Noer Ali, menjadi titik balik perjalanannya. Karya tulis pertamanya berjudul “Bekasi Lautan Api”, tulisan tentang pembumihangusan Bekasi oleh pasukan Sekutu pada 13 Desember 1945. Saat Ali baru memasuki bangku kuliah Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.
Tulisan yang bersumber dari cerita lisan orang-orang tua itu kemudian dikembangkan selama dua puluh tahun dan diterbitkan menjadi buku lengkap berjudul Bekasi Dibom Sekutu: Pembumihangusan Kota dan Kampung-kampung di Bekasi oleh Tentara Sekutu-Inggris, 13 Desember 194t.
Pria kelahiran Bekasi, 12 Januari 1965, ini mengakui penggalian sejarah Bekasi bukan perkara mudah, dan bukan hanya sebatas cocokologi seperti sekarang bertebaran di media sosial.
“Kesulitannya adalah pengumpulan data karena banyak yang tidak terdokumentasikan. Saksi sejarah pun rata-rata sudah meninggal,” kata Ali.
Kelangkaan data justru memicu semangatnya. Ali menyebut kegiatan pengumpulan data ini sebagai “tamasya ke masa lalu”, dilakukan dengan penuh kegembiraan, tak lelah menyisir catatan, mewawancarai saksi, dan menyusun kepingan masa lalu.
Karya-karya buku sejarah lahir dari tangannya, antara lain: Seri Sejarah Peradaban Dunia. Gerakan Protes Petani Bekasi: Studi Kasus Awal Masuknya Sarekat Islam di Tanah Partikelir. Sejarah Bekasi Sejak Purnawarman sampai Orde Baru. Cuplikan Sejarah Patriotik Rakyat di Bekasi. Benda Cagar Budaya Kabupaten Bekasi. Konflik Sampah Kota, dan K.H. Noer Alie, Kemandirian Ulama Pejuang.
Bagi Ali, sejarah harus ditulis agar tidak pupus ditempa waktu. Penulisan sejarah, katanya, sama halnya dengan usaha mencari identitas kultural daerah tersebut.
“Bekasi sampai saat ini tidak memiliki akar budaya yang jelas. Hal ini disebabkan banyak faktor. Bekasi menjadi tempat berbaurnya berbagai kebudayaan sejak era Tarumanegara, serta pengaruh kebudayaan asing akibat penjajahan. Perlu adanya rekonstruksi budaya untuk menciptakan kesatuan budaya dan kultur. Ini adalah tugas kita bersama, terutama pemerintah daerah,” papar pria yang biasa disapa Kong Ali oleh teman sejawatnya itu.
Kini, Ali Anwar bukan sekadar penulis sejarah, Ia adalah penjaga ingatan kolektif masyarakat Bekasi, yang memastikan masa lalu tidak “mati obor” alias hilang ditelan zaman.
(Ded)


