Nasi Uduk Semur Jengkol dan Maulid di Ujung Harapan, Warga: Aura Berbeda Tanpa Para Sesepuh
Infobekasi.co.id – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Ujung Harapan, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, kembali digelar. Di tengah keramaian jemaah, suasana kebersamaan terasa kental.
Nasi uduk semur jengkol khas orang Jumalang, tak kalah dari suasana Hari Raya. Bagi warga setempat, momen maulid sudah menjadi tradisi yang ditunggu-tunggu setiap tahun.
Namun di balik kemeriahan itu, ada hal yang dirasakan berbeda oleh para warga yang sudah lama mengikuti tradisi ini. Saykhu, salah satu warga, mengungkapkan perasaan yang jujur dan mendalam.
“Alhamdulillah masih ada nasi uduk semur jengkol, hampir di tiap rumah pada masak nasi uduk buat acara maulid. Kebiasaan baik dari Kong Kiai (KH. Noer Alie) masih dijaga,” ucapnya.
Meski demikian, Ia mengakui ada perubahan yang terasa. Seiring waktu berjalan, guru-guru tua sudah banyak meninggal. Terutama guru-guru yang secara langsung mendapat didikan dari KH Noer Alie yang diajarkan kepada santri Ponpes Attaqwa dan masyarakat Ujungharapan.
“Semenjak tidak ada para umaro sesepuh, emang agak beda auranya, khususnya bagi kita yang pernah diajarkan oleh beliau (guru-guru di ponpes Attaqwa),” ujar Syakihu.
Perubahan itu tak hanya soal rasa, melainkan suasana dan kehadiran para sesepuh yang dulu menjadi tiang utama saat kegiatan maulid. Namun di sisi lain, kemajuan juga terlihat jelas.
“Dari sisi lain, kelebihannya juga ada. Tata kelola jemaahnya, manajemen panitianya, hingga penataan para pedagang. Agak lebih rapi dibanding dulu. Mungkin juga karena faktor kepadatan jemaah yang semakin bertambah,” katanya.
Pertanyaan apakah Maulid di Ujungharapan saat dulu dan sekarang berbeda, baik kekurangan maupun kelebihannya, menjadi refleksi bahwa tradisi ini terus berjalan, beradaptasi, dan tetap hidup.
Aura para pendahulu mungkin tak lagi sama, namun semangat kebersamaan, kehangatan silaturahmi, dan kemeriahan Maulid di Ujung Harapan tetap terjaga dengan baik.
(ded)


