PEBAYURAN – EM (40), seorang ibu rumah tangga, dan putra pertamanya NS , hanya bisa pasrah. Ibu dan anak tersebut diamankan, setelah kepergok menjual narkoba jenis Pil Eximer.
Tak tanggung-tanggung, dari tangan kedua tersangka, yang berasal dari Kampung Wates, Desa Karangmekar, Kedungwaringin itu, polisi berhasil mengamankan 1.080 butir siap edar, yang sudah dibungkus per paket.
Kapolsek Pebuyuran, AKP Siswo, menjelaskan jika para tersangka berhasil diamankan berdasarkan laporan warganya. Sebab, pada Jumat (04/03) kemarin, salah satu pelajar SMPN 1 Pebayuran, berinisial RK, meninggal dunia karena diduga Over Dosis (OD), setelah mengonsumsi sejumlah obat penenang tersebut.
”Masih tahap pengembangan, belum bisa saya berikan komentar. Senin saja kita akan rilis di Mapolsek Pebayuran,” ungkap Kapolsek Pebayuran, Siswo saat dihubungi kemarin (05/03).
Sedangkan menurut warga sekitar AM, obat tersebut sejatinya sudah lama beredar di wilayah Pebuyuran. Bahkan ironisnya, kerap dijual di lingkungan SD dan SMP. Mereka pun menyebutkan barang tersebut dengan sebutan “Plehoy”.
”Ya itu saya pernah mendapatkan dari bocah SD, bahkan saya ditawarkan. Katanya, Bang-Bang…mau Plehoy gak? Murah nih. Saya kaget pas denger bocah SD juga pernah merasakan obat-obatan tersebut,” kata sumber, menceritakan ulang kisah pengakuan bocah SD tersebut.
Ia menambahkan, jika satu paket barang haram tersebut, dijual dengan harga Rp 10-15 ribu per paketnya. Dalam satu paket itu, mereka akan mendapatkan 5 butir Pil Eximer.
”Kita berharap agar polisi juga dapat mengungkapkan jaringan dan aktor utamanya, terkait asal muasal barang tersebut. Apalagi, tak sedikit bocah SD yang juga menjadi sasaran mereka,” jelasnya.
Sedangkan menurut Kepala Desa Karangmekar, Sahit, membenarkan telah terjadi penangkapan atas warganya sekitar pukul 14.00 WIB. Para tersangka diduga telah menjadi buronan polisi, terkait pengedaran obat-obatan terlarang.
”Ya saya baru dapat kabar tadi ada warga saya yang diduga katanya menjadi tersangka pengedar obat-obatan terlarang,” ungkapnya saat dihubungi.
Ia pun menambahkan, bahwa berdasarkan keterangan jajaran RT setempat, kedua tersangka selama ini dikenal cukup baik.
”Saya juga bingung, padahal keseharian tersangka hanyalah tukang angon sapi dan tidak tau bila selama ini tersangka pengedar, ditambah lagi dengan ibunya yang jadi kurirnya,” katanya mengakhiri percakapan. (Tio)






























