Infobekasi.co.id – Di balik kemajuan Kabupaten Bekasi saat ini, ada nama besar yang pernah menorehkan sejarah penting dalam fondasi pemerintahan dan pembangunan, adalah Muhammad Nausan bin Rindon. Ia adalah Bupati Kabupaten Bekasi asal Gabus yang menjabat dari 27 Januari 1958 hingga 26 Januari 1960.
Meski jasanya besar, namanya sempat luput dari perhatian publik selama puluhan tahun. Berikut sosok Nausan Bin Rindon yang dihimpun infobekasi dari berbagai sumber :
Dari Bangsawan Gabus ke Pemimpin Rakyat
Nausan lahir pada 10 April 1911 di Kampung Gabus (sekarang Desa Srimukti, Tambun Utara). Ia berasal dari keluarga bangsawan tanah. Ayahnya, Rindon, dikenal sebagai pemilik ratusan hektare lahan membentang dari Bekasi hingga Cikampek. Nausan sendiri dikenal cerdas sejak muda. Ia menempuh pendidikan di HIS (Hollandsch-Inlandsche School) dan fasih berbahasa Belanda, menjadikannya sosok terpelajar di masa itu.
Meski hidup berkecukupan, Nausan memilih jalur pengabdian. Pada masa revolusi kemerdekaan, ia aktif mendukung perjuangan rakyat. Ia menyediakan logistik bagi pejuang, membantu para veteran, bahkan menyumbangkan hasil panennya untuk membantu keluarga pejuang yang ditinggalkan.
Kepemimpinan yang Singkat
Nausan ditunjuk sebagai Kepala Daerah Swatantra Tingkat II Bekasi, istilah untuk bupati kala itu, pada 1958. Meski masa jabatannya hanya dua tahun, ia mencatat banyak inisiatif penting. Beberapa di antaranya adalah:
Membuka jalan inspeksi Kalimalang (Tambun–Pangkalan Jati) yang memudahkan mobilitas masyarakat, memperbaiki dan membangun infrastruktur di kampung halamannya, Gabus, serta membangun kantor Pengadilan di Bekasi.
Sikapnya yang merakyat membuat rumahnya sering menjadi tempat diskusi warga dan tokoh masyarakat. Ia dikenal tidak menjaga jarak dengan rakyat, bahkan ketika menjabat sebagai bupati.
Terlupakan Bertahun-tahun, Baru Kini Dikenang Lagi
Setelah wafat, nama Nausan bin Rindon nyaris tenggelam dalam sejarah. Tak ada nama jalan, sekolah, atau bangunan pemerintahan yang menggunakan namanya. Bahkan makamnya di Tambun sempat tidak terurus dan dikelilingi warung-warung liar, membuat keluarganya merasa jasa Nausan tidak dihargai.
Namun, sejak 2022, perhatian pemerintah mulai muncul kembali. Beberapa bentuk penghormatan mulai diberikan, seperti, penamaan Gedung DPMPTSP Kabupaten Bekasi dengan nama Gedung M. Nausan pada Februari 2023. Ziarah dan tabur bunga di makam Nausan rutin dilakukan dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Bekasi dan HUT RI.
Pada Juni 2025, Pemprov Jawa Barat melalui Dedi Mulyadi menjanjikan renovasi makam Nausan dan menertibkan area di sekitarnya.
Harapan Keluarga dan Warga
Keluarga besar Nausan menyambut baik langkah pemerintah, namun berharap perhatian terhadap sejarah tidak bersifat simbolik saja. “Bukan hanya soal nama gedung, tetapi juga nilai-nilai perjuangan dan keteladanan beliau harus diwariskan ke generasi muda,” ujar salah satu cucu Nausan.
Warga Kampung Gabus pun berharap tokoh besar seperti Nausan lebih banyak dikenalkan melalui pelajaran sejarah lokal di sekolah, kegiatan budaya, hingga literasi di ruang publik.
Nausan bin Rindon bukan hanya tokoh administratif, tetapi juga simbol semangat pengabdian dan kepemimpinan lokal yang dinilai dekat pada masyarakat. Kini, setelah sekian lama namanya tenggelam, perlahan-lahan cahaya pengakuan terhadap jasanya kembali menyala. Semoga ini menjadi awal dari penghormatan yang berkelanjutan.
Deros /infobekasi
#BupatiPertamaBekasi #infobekasi #NausanBinRindon #Bekasi #Tokoh






























