Shandra Woworuntu, Korban Perdagangan Manusia di Amerika

Shandra WoworuntuHarapan bagi orang-orang yang memutuskan untuk bekerja di luar negeri tentu adalah untuk kesejahteraan. Begitu pula dengan wanita asal Indonesia ini, Shandra Woworuntu.

Pada 1998, Shandra memutuskan untuk bekerja di perhotelan, di Amerika Serikat. Ia lalu mengikuti berbagai macam tes, dan kemudian pada 2001, dengan iming-iming gaji sebesar Rp 66 juta per bulannya, ia harus rela membayar Rp 30 juta untuk melanjutkan proses perekrutan ini.

Setelah semuanya beres, ia kemudian terbang ke Amerika Serikat. Di sana, ia tiba di bandara John F. Kennedy, dan dijemput oleh seorang pria bernama Johnny. Shandra dibawa ke sebuah rumah di daerah Brooklyn. Sang supir yang membawanya, ternyata memanggil mpunya rumah dengan panggilan Mama-San, yang diketahui oleh Shandra, panggilan tersebut artinya mami-mami germo rumah bordil. Shandra tidak bisa berbuat banyak, karena pada saat itu ia ditodong pistol.

Saat pintu terbuka, ia melihat gadis kecil sedang disiksa, dan saat itu juga Shandra dipaksa untuk melakukan hubungan seks.

Keesokan harinya Jhonny datang untuk menjemputnya, dan meminta maaf karena ada kekeliruan. Saat itu Shandra masih percaya olehnya, dan menurut untuk diajak ke hotel di Chicago, hotel yang memang Shandra ingini untuk bekerja di sana.

Namun ternyata ia bukannya diantar ke hotel yang dimaksud, melainkan ke tempat di mana para sindikat penjualan orang memaksanya untuk berhubungan seks.

Para penjahat ini berasal dari Indonesia, Taiwan, Malaysia, Cina, dan Amerika. Di antara mereka, hanya dua orang saja yang bisa berbahasa Inggris. Selebihnya, mereka berkomunikasi dengan hasa tubuh.

Sindikat ini mengatakan pada Shandra bahwa ia berhutang sebesar Rp 400 juta, dan ia harus mengangsur utang senilai US$ 100 tiap kali melayani seorang pria.

Begitulah kehidupan Shandra. Tiap malam ia bukan hanya melayani nafsu berahi laki-laki bejat, namun juga dipaksa untuk mengonsumsi narkoba dan minuman keras. Begitulah kiranya supaya Shandra mau menuruti perintah para penjahat itu. Jika melawan, mereka tidak segan untuk menyakitinya.

Pernah pada suatu malam ia mencoba untuk kabur melalui sebuah jendela kamar, dengan menggunakan baju yang disusun menjadi tali, namun karena terlalu tinggi, dan bajunya tidak cukup, ia mengurungkan niatnya kembali.

Di suatu rumah bordil, ada satu pelacur kelas atas, yang mengatakan padanya bahwa ia dapat menolong. Dengan menghubungi orang yang dimaksud oleh pelacur tersebut, Shandra dijanjikan akan diberi pekerjaan yang layak. Shandra akhirnya nekat untuk kabur kembali, dan menghubungi orang yang dimaksud. Orang tersebut mengajak Shandra ke sebuah hotel, sementara ia mencarikannya pekerjaan. Namun siapa sangka? Ternyata orang tersebut juga merupakan sindikat. Kemudian karena Shandra menolak untuk “melayani” tamu, orang itu menelepon Jhonny untuk menjemput Shandra. Sebelum Jhonny sempat menjemput, Shandra melarikan diri.

Tempat yang pertama ia tuju adalah kantor polisi. Di sana ia menceritakan pengalamannya, namun entah mengapa polisi tidak percaya padanya. Ia lantas pergi menemui dua polisi di pinggir jalan, dan responnya pun sama saja. Shandra yang mendapat perlakuan seperti itu tidak segera putus asa. Ia pergi ke konsulat Indonesia. Tak disangka-sangka, bukannya menolong, mereka tidak membantunya juga.

Namun perjuangannya selama itu akhirnya membuahkan hasil. Meskipun oleh polisi dan konsulat Indonesia ia tidak ditolong, ia terus saja menceritakan pengalamannya dan meminta bantuan pada tiap orang yang ditemuinya. Ketika Shandra sedang berada di Grand Ferry Park, di Williamsburg, seorang pria bernama Eddy membelikannya makan, dan menolongnya dengan cara menghubungi FBI.

Seperti dalam adegan di film Hollywood, Shandra diajak oleh petugas ke rumah bordir, tempat Shandra “bekerja”. Sesampainya di rumah bordir tersebut, petugas yang menyamar sebagai pelanggan, menangkap sindikat tersebut. Perempuan-perempuan lain yang juga dijadikan sebagai budak seks akhirnya bisa tertolong juga.

Begitulah akhir kisah dari Shandra Worowuntu, perempuan yang diperjual belikan di negeri orang. Meski kejadian tersebut sudah lima belas tahun yang lalu, namun traumanya masih belum dapat hilang dari dirinya. Ia masih belum dapat berhubungan dengan normal kepada laki-laki, jika mendengar bunyi telepon genggam, ia masih merasa ketakutan, dan masih belum bisa tenang jika berbicara.

Semoga hukuman bagi sindikat tersebut setimpal dengan apa yang telah dialami oleh Shandra, dan para korban lainnya. (Adm)

Sumber : bbc.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini