Warga Bantargebang Usulkan Program Tukar Sampah dengan Pendidikan

aliansi-masyarakat-peduli-pendidikan-lakukan-bincang-bincang-tentang-tukar-sampah-dengan-pendidikan-bantargebang-di-rm-wulansari

BEKASI SELATAN – Tiga puluh tahun hidup dengan sampah, Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan (AMPP) yang dibentuk oleh masyarakat Bantargebang mengusulkan program tukar sampah dengan pendidikan.

Juru Bicara AMPP, Tholib Hidayat, dalam agenda bincang cerdas tukar sampah dengan pendidikan, di Rumah Makan Wulansari, Rabu (12/10), menuturkan bahwa target dalam program ini ialah pendidikan gratis untuk masyarakat Bantargebang yang secara legal diatur dalam klausul kerja sama antara Pemprov DKI dan Pemkot Bekasi.

“AMPP membuat suatu konsep dan usulan bernama program pendidikan gratis untuk Bantargebang, dimana program ini berisi tuntutan lima poin yang diperuntukan bagi seluruh masyarakat Bantargebang. Tidak membedakan kaya maupun miskin, melainkan sebagai penderita langsung dampak kerusakan lingkungan akibat keberadaan TPST Bantargebang,” paparnya.

Tholib menyebutkan, kelima poin yang tercantum dari program tersebut ialah pembangunan gedung sekolah khusus bagi seluruh masyarakat Bentargebang, mulai dari SD hingga SMA yang berstandar internasional, Pembebasan seluruh biaya operasional sekolah, penyediaan sarana angkut massal atau bus sekolah di masing-masing kelurahan, pengadaan program beasiswa untuk pelajar berprestasi ke jenjang universitas, serta penyelenggaraan program kejar paket A, B, C secara gratis.

“Miris ketika kami dibuangin sampah tapi hak anak-anak kami terbatasi. Ini buat kami tergerak dimana harus ada pendidikan gratis untuk masyarakat Bantargebang. Kami ingin betul-betul gratis, selama ini kan aktualnya masih bayar biaya gedung, seragam dan buku. Jadi itu yang kami sangat sayangkan,” ujar dia

Tujuan dari program ini, lanjut Tholib, ialah supaya anak-anak Bantargebang nantinya dapat memiliki ijazah, dapat mengikuti pendidikan wajib 12 tahun tanpa terbebani masalah biaya, pelajar dapat melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi, dan wilayah Bantargebang dapat dijadikan tempat tujuan wisata pendidikan.

“Kami sudah lakukan ke DPRD, tapi sampai saat ini kita belum dapat jawaban kongkrit untuk realisasikan sampah Bantargebang. Kami sebagai bagian masyarakat setuju beberapa poin dari 15 poin  tututan kami. Namun yang kami sayangkan adalah dari bahan kajian 15 item ini kenapa pendidikan bukan skala prioritas,” katanya. (Sel)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini