Cicilan Bajaj Bekasi Senilai Ratusan Juta?

bajaj-biru-bekasiBEKASI TIMUR – Salah seorang pengemudi bajaj Kota Bekasi, Ucok (bukan nama sebenarnya), mengungkapkan bahwa total besaran nilai cicilan bajaj Bekasi bisa mencapai ratusan juta rupiah. Padahal sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan Kota Bekasi, Yayan Yuliana, mengatakan bahwa harga kendaraan roda tiga tersebut ialah Rp 67 juta rupiah.

“Cicilannya sih murah, seratus ribu sehari selama lima tahun,” kata Ucok kepada infobekasi.co.id, Jumat (09/12).

Ia mengatakan, besaran cicilan tersebut dibayarkan langsung kepada Organda Kota Bekasi. Dia dijanjikan, setelah lima tahun, maka bajaj tersebut akan resmi menjadi hak miliknya.

“Nanti kalau sudah lima tahun nggak perlu bayar cicilan lagi. Bajajnya buat saya,” ucap dia sembari tersenyum.

Sementara, apabila diakumulasikan, besaran cicilan Rp 100 ribu sehari selama lima tahun ialah sebesar Rp 182.500.000, atau hampir tiga kali lipat dari biaya harga bajaj normal.

“Menurut saya sih cicilannya kategori murah, karena ramai yang naik bajaj. Meski penghasilan nggak tentu, tapi bisa sepuluh sampai lima belas orang yang naik dalam sehari,” tutur dia.

Sementara itu, Ucok juga mengatakan bahwa nantinya akan dioperasikan 100 bajaj per kecamatan dengan diterapkan sistem pembayaran yang sama.

“Cuma yang kami agak keberatan itu pengisian bahan bakar. Masih jauh, di Pondok Ungu. Ini kan pakai bahan bakar gas,” ucapnya.

Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Kota Bekasi, Reynold, mengatakan, bahwa bajaj yang sifatnya komersil dimana akan dapat dimilikinya bajaj untuk perseorangan, maka kedepan akan menjadi permasalahan baru.

“Bajaj ini kan sifatnya komersil perseorangan boleh memiliki, harga katanya 67-an juta dengan DP Rp 20 juta. Kami sih tidak mau masuk wilayah bisnis atau apa, dari awal aja kami tak mau terima. Tapi ini menurut saya akan jadi masalah kedepannya dari sisi aturan. DKI saja banyak permasalahan. Perizinan nggak jelas, regulasi, maping lokasi, dan lainnya juga nggak bagus,” kata dia.

Ditambah lagi, lanjut dia, persoalan uji coba yang dilakukan Dishub mulai 18 Oktober hingga kini belum kunjung selesai.

“Kami minta pertanggungjawaban, mereka bilang uji coba satu bulan dari saat launching. Dimana itu katanya belum tentu jadi kesepakatan. Tapi buat kami kalau namanya sudah launching, maka tidak ada lagi test case. Jadi jangan menambah-nambah istilah lagi,” ujarnya. (Sel)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini