Pengamen Ondel-ondel Tak Dilarang, Ini Syaratnya

Infobekasi.co.id – Tidak seperti di Kota Bekasi, sejumlah kepala desa di Kecamatan Tambun Selatan mengaku tidak akan menertibkan pengamen ondel-ondel saat ini, “Asal tertib dan tidak menggangu arus lalu-lintas, biarkan saja,” ujar Encep Hendra Gunawan, Pj Kades Mangunjaya.

Apalagi, menurut Encep, kalau mereka ‘ngamen’ di lingkungan perumahan dan disenangi anak-anak, silahkan saja. Dia pun maklum saat ini kondisi mencari uang sangat sulit, apalagi dimasa pandemi Covid-19, wajar saja mereka keliling mencari sesuap nasi.

Hal serupa disampaikan Jaut S Winata, Kades Tambun. Menurutnya selama ini mereka berkreasi dan melestarikan budaya Betawi yang notabene bagian dari Bekasi dan khususnya Tambun, “Banyak persamaan kebudayaan Bekasi dan Betawi, jadi biar saja mereka berekspresi,” jelas Jaut.

Kedua kepala desa (Kades) itu menyampaikan, setelah mendengar keluhan beberapa ibu rumah tangga yang anaknya selalu mengikuti pengamen ondel-ondel dan bahkan sampai ikut mengamen.

Fenoma pengamen ondel-ondel ini memang muncul di beberapa daerah Jabodetabek. Mereka dengan membawa satu atau sepasang ondel-ondel diiringi musik dari flashdisk yang disambung ke pengeras suara. Iramanya pun bernuansa betawi, namun sudah dimodernisasi.

Namun ada juga yang disalahgunakan oleh anak-anak. Ondel-ondel yang buat asal-asalan dan bahkan hanya terbuat dari kain sarung serta bawahannya kurungan ayam. Musiknya pun hanya kaleng bekas biskuit yang dipukul-pukul.

Sementara itu, Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra mengatakan, kalau memang menggangu setuju ditertibkan. Menurutnya, ondel-ondel ataupun kesenian lainnya memang sejak dulu dijadikan sarana hiburan sekaligus sebagai mata pencaharian. Namun, dijadikannya ondel-ondel sebagai mata pencaharian tidak lantas mengabaikan unsur pelestarian budaya.

Yahya kemudian membandingkan ngamen ondel-ondel pada zaman dahulu dengan zaman sekarang. Menurut dia, pada zaman dulu, para seniman ngamen dalam rangka menjaga kelestarian ondel-ondel itu sendiri.

“Ngamen itu berjalan terus, ngamen yang benar itu mereka ngamen yang betul-betul menjadikan itu sebagai satu upaya memelihara, mempertahankan dan menjaga sesuai dengan pakemnya, jadi mengamen zaman dahulu yang memang ngamen reguler yang dilakukan untuk tujuan mulia yaitu pemeliharaan, eksistensi, kemudian juga identiti, tetep dipertahankan,” tuturnya.

Sedangkan pada zaman sekarang, menurut Yahya, ngamen ondel-ondel seolah mengabaikan kearifan lokal. Tujuan utama hanya untuk mencari uang.

“Ngamen yang sekarang itu adalah upaya yang dilakukan oleh oknum tertentu tanpa melihat latar belakang kearifan lokal yang ada pada ondel-ondel itu, pokoknya mereka keliling kampung dengan mengambil anak muda yang pengangguran. Oknum yang memanfaatkan itu yang salah, karena lihat sendiri ngamen yang sekarang itu kan mereka nggak tertib, ondel-ondel itu kan simbol,” kata Yahya.

Reporter: Saban

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini