Permainan Ujungan, Pertarungan Harga Diri dan Status Sosial

Infobekasi.co.id – Kali ini HUT Kabupaten Bekasi ke-73 ini memakai logo Ujungan. Simbol itu punya makna dalam perjalanan tradisi budaya di Kabupaten Bekasi. Permainan Ujungan salah satu kesenian khas Bekasi yang hampir terlupakan oleh warga Bekasi.

“Hari Jadi ke-73 kita simbolkan dalam bentuk orang yang sedang silat ujungan. Karena ujungan adalah kesenian khas Bekasi yang hampir terlupakan. Kita angkat menjadi simbol. Besok ada 1.500 siswa SMP-SMA yang akan mendemonstrasikan Silat Ujungan,” ujar Bupati Bekasi, Dani Ramdan saat merayakan HUT Kabupaten Bekasi di Cikarang, Selasa (15/08/23).

Sekedar informasi, kesenian Ujungan adalah seni beladiri mirip dengan gerakan silat, namun menggunakan tongkat (batang bambu) dan diiringi dengan musik dan tarian yang usianya sangat tua, dari abad ke-7 masehi (zaman Kerajaan Sunda) hingga masa kejayaannya pada abad 18 sampai awal abad ke 19. Bagi Jawara Bekasi, Ujungan adalah pertarungan harga diri dan status sosial.

Kata ‘ujungan’ berasal dari bahasa Sunda. Kata ‘jung’ berarti dari lutut ke bawah, berkembang menjadi ujung berarti kaki. Menurut beberapa tokoh Ujungan Bekasi, ujungan berasal dari kata Ujung (bongkot dalam bahasa dialek Bekasi), baik ujung rotan maupun ujung jari kaki.

Seperti peraturan permainannya yang hanya memperbolehkan para pemain memukul bagian pinggang ke bawah, bagian kepala dan kemaluan tidak boleh dipukul. Sasaran utama pukulan yaitu pada tulang kering, dan mata kaki lawan.

Dalam permainan ini juga, ujung jari kaki khususnya ibu jari jangan sampai terkena ujung rotan karena dapat menimbulkan luka yang serius bila terkena pukulan. Seni Ujungan ini membutuhkan 3 orang dimana 2 orang sebagai pemain dan 1 orang sebagai wasit.

Sebelum bertarung, seorang petarung Ujungan masuk ke arena dengan menari diiringi musik pencak. Sambil menari, pemain akan melontarkan tantangan dan mencari lawan tanding dan bila ada yang menerima tantangan tersebut maka tarung Ujungan dapat dimulai.

Pemenang dari permainan pertama akan menantang penonton. Begitu seterusnya sampai petarung disebut jawara Ujungan karena tidak ada lagi yang berani menantang.

Sekitar tahun 1960-an Ujungan dilarang oleh Pemerintah Indonesia karena dianggap permainan sadis. Pada perkembangan selanjutnya, Ujungan bukan lagi sebagai media untuk menyeleksi jawara yang terbaik, melainkan hanya sebagai hiburan rakyat.

Ujungan saat ini berada di ambang kepunahan. Padahal, seni bela diri ini merupakan salah satu kesenian Sunda dan Betawi warisan leluhur tak benda yang sudah berumur ratusan tahun yang menanamkan semangat olahraga dan persaudaraan.

Jika bukan kita, siapa lagi yang bakal melestarikan seni Ujungan khas Bekasi punya. Menjaga tradisi, merawat kerarifan lokal.

Reporter Magang : Amalia Nurul Aini

Editor  : Dede Rosyadi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini