infobekasi.co.id – Di tengah geliat modernisasi transportasi Kota Bekasi, segelintir moda angkutan lawas masih beroperasi, menjadi saksi sejarah perjalanan warga. Salah satunya adalah Koasi K10, angkutan kota (angkot) berwarna oranye yang sejak era 1990-an melayani rute Ujung Harapan – Terminal Bekasi.
Meski tak semegah moda-moda berbasis digital yang kini merajai jalan, Koasi K10 pernah hadir menemani perjalanan hidup warga Bekasi. Ia menjadi penghubung wilayah utara Bekasi menuju pusat kota, membawa penumpang, cerita, dan kenangan dari masa ke masa.
Koasi (Koperasi Angkutan Bekasi) mulai dikenal luas sejak awal 1990-an. Kode “K” merujuk pada trayek dalam kota Bekasi yang dikelola oleh koperasi supir lokal, sementara angka 10 menunjukkan nomor urut trayeknya.
K10 resmi melayani rute: Ujung Harapan – Harapanbaru- Kaliabang Tengah -Perumnas 1- Duren Jaya – Margahayu -Terminal Induk Bekasi.
Rute ini menyisir kawasan padat penduduk Bekasi Utara, menjadikan K10 sebagai moda vital bagi buruh, pelajar, pedagang, dan warga biasa menuju pusat aktivitas ekonomi di tengah kota pada masanya.
“Dulu jam 5 pagi udah penuh. Nunggu K10 jadi rutinitas sebelum sekolah. Ada juga yang terpaksa gelantungan di depan pintu,” kenang Asro, pria berusia 31 tahun,0sewaktu menjadi pelanggan koasi K10 saat sekolah dulu.
Koasi K10 mudah dikenali dari bodi Suzuki Carry tua berwarna oranye menyala, dengan plat kuning dan tulisan tangan besar bertuliskan “UJUNG HARAPAN – BEKASI”. Kadang tertempel stiker lucu atau nama anak supir di bagian dashboard.
Di dalamnya, pengalaman kolektif masyarakat terbangun, dari anak sekolah yang saling berebut kursi belakang, hingga ibu-ibu yang membawa belanjaan sayur dari pasar ke rumah.
Puncak kejayaan K10 terjadi antara 1995 hingga 2010, sebelum perlahan tergeser oleh munculnya moda-moda baru: motor pribadi, ojek online, hingga minibus aplikasi.
Sopir-sopir K10 mulai berkurang. Armada makin tua, dan pendapatan tidak lagi sebanding dengan pengeluaran operasional. Pandemi COVID-19 bahkan sempat melumpuhkan nyaris seluruh trayek non-digital.
“Kalau dulu bisa 10 putaran sehari. Sekarang, Nunggu penuh bisa sejam lebih,” kata Amin Pala, mantan supir K10 yang banting setir jadi supir angkut barang.
Menurut data Dishub Kota Bekasi (2019), jumlah Koasi aktif di trayek K10 tinggal belasan unit, dari sebelumnya puluhan unit di awal 2000-an.
Meski tergerus zaman, K10 tetap bertahan meski jumlah sedikit, karena masih melayani warga yang tak terbiasa digital, lansia, serta anak sekolah.
Siapa yang pernah naik koasi K10. Silahkan komentar !
Dede Rosyadi
#KoasiK10 #Angkot #infobekasi #Transportasi






























