Infobekasi.co.id – Warga Bekasi tentu tidak asing dengan istilah CBL atau Cikarang-Bekasi-Laut. Kanal besar yang membentang dari kawasan Cikarang hingga pesisir utara Bekasi ini bukan sungai alami, melainkan saluran buatan yang punya sejarah panjang dalam tata air dan pembangunan daerah. (Penduduk sekitar nyebut-nya Kali CBL).
Awal Mula Pembangunan
Dari catatan dihimpun infobekasi, Kanal CBL dibangun pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an. Catatan ensiklopedis juga menyebutkan kanal ini mulai digali pada 1977 dan rampung sekitar 1980, bahkan sempat dijuluki salah satu saluran terbesar dan termodern kala itu. Sumber akademik juga menuliskan CBL selesai dibangun sekitar 1982, dan langsung dikelola oleh Perum Jasa Tirta II sebagai bagian dari sistem drainase besar di wilayah Cikarang-Bekasi.
Fungsi Utama: Pengendali Banjir dan Irigasi
Latar belakang pembangunan CBL tak lepas dari masalah banjir yang kerap melanda Bekasi di dekade 1970-an. Kanal ini dirancang untuk mengalirkan kelebihan air dari kawasan industri Cikarang ke arah laut. Mengurangi banjir di pusat Bekasi. Menjadi saluran irigasi bagi lahan pertanian di utara Bekasi.
Bahkan, laporan lokal menyebut periode 1984–1990, Bekasi relatif bebas banjir berkat berfungsinya kanal ini.
Jalur dan Hubungan dengan Kali Bekasi
Secara tata air, Kali Bekasi bermuara ke Laut Jawa melalui CBL. Kanal ini menjadi jalur hilir membawa aliran sungai keluar ke Teluk Jakarta, melewati wilayah Babelan, Kabupaten Bekasi. Beberapa catatan sejarah lokal juga menggambarkan CBL memotong alur lama Kali Bekasi, lalu membentuk pertemuan sungai baru di kawasan Pondok Dua dan Jembatan Sasak.
Dari Kanal Air ke Wacana Jalur Logistik
Memasuki era 2010-an, muncul gagasan memanfaatkan CBL sebagai inland waterway atau jalur logistik air. Rencana ini menghubungkan kawasan industri di Cikarang dan Cibitung langsung ke Pelabuhan Tanjung Priok melalui transportasi kontainer via sungai. Namun, pada Agustus 2024, pemerintah resmi mencoret proyek CBL Inland Waterway dari daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Walau begitu, ide penggunaan kanal sebagai jalur distribusi masih menjadi bahan diskusi.
Kini, kanal CBL menghadapi sejumlah persoalan, mulai dari sedimentasi dan sampah, terutama di pesisir Babelan, kerap mengganggu aliran. Tumbuhnya TPS liar di tepi kanal yang sudah berulang kali ditertibkan.
Nama Cikarang-Bekasi-Laut menggambarkan peran kanal ini, menghubungkan hulu industri (Cikarang), koridor tengah (Bekasi), hingga muara di laut. Dibangun untuk menanggulangi banjir, CBL juga dinilai sebagai infrastruktur strategis yang masih menyisakan potensi besar, baik bagi tata air maupun pengembangan logistik di masa depan.
Dede Rosyadi
#KanalCBL #Infobekasi #CBL #Babelan








































