infobekasi.co.id – Gelombang kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) melanda jaringan SPBU swasta di berbagai daerah kini berdampak serius pada sektor ketenagakerjaan. Di SPBU Shell yang terletak di Jalan Raya Villa Indah Mangun Jaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, sekitar 50 persen dari total pegawai terancam mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau dirumahkan sementara mulai bulan Oktober mendatang.
Ancaman PHK ini diungkapkan oleh Devi, Shift Manager SPBU Shell Mangunjaya. Ia menjelaskan, bahwa kelangkaan BBM berkepanjangan, khususnya pada jaringan SPBU swasta seperti Shell, telah memaksa perusahaan untuk mengambil langkah-langkah penyesuaian operasional berdampak langsung pada nasib para pekerja.
“Kami sangat prihatin dengan situasi ini. Kelangkaan BBM telah menyebabkan penurunan omzet yang signifikan, sehingga kami harus mengambil langkah-langkah sulit untuk menjaga keberlangsungan bisnis,” ujar Devi dengan nada prihatin, pada Kamis (18/9/2025).
Krisis ini bermula dari kebijakan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), belum memberikan tambahan kuota impor BBM kepada SPBU swasta.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya telah meminta SPBU swasta untuk membeli BBM dari Pertamina jika stok mereka habis, mengingat pemerintah tidak mengalokasikan kuota impor khusus untuk mereka.
“Kami memahami arahan dari pemerintah, tetapi dalam praktiknya, hal ini sangat sulit dilakukan. Pasokan dari Pertamina tidak selalu mencukupi dan harganya juga berbeda, sehingga mempengaruhi daya saing kami,” jelas Devi.
Menurut Devi, SPBU Shell Mangunjaya saat ini tengah berupaya untuk menyesuaikan operasional dengan stok BBM yang terbatas. Namun, langkah ini tidak dapat menghindari potensi pengurangan jumlah karyawan.
“Saat ini, stok BBM kami hanya cukup sampai bulan September. Jika tidak ada perubahan kebijakan atau tambahan pasokan, maka pengurangan karyawan kemungkinan besar akan terjadi pada bulan Oktober,” ungkapnya.
SPBU Shell Mangunjaya saat ini memiliki 13 orang pegawai yang terdiri dari operator, mekanik, hingga kasir. Devi memperkirakan bahwa hampir separuh dari jumlah tersebut akan terdampak PHK atau dirumahkan sementara.
“Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja dan kebutuhan operasional. Prioritas akan diberikan kepada pegawai yang memiliki kinerja baik dan masa kerja yang lama. Namun, dengan berat hati, kami harus mengambil keputusan yang sulit,” tutur Devi.
Lebih lanjut, Devi mengungkapkan bahwa kuota impor BBM tahun ini hanya ditambah sebesar 10 persen. Kondisi ini semakin memperburuk situasi, terutama karena stok BBM di SPBU Shell Mangunjaya diperkirakan akan habis pada akhir September dan kemungkinan baru akan tersedia kembali pada awal tahun depan.
“Kami telah berupaya untuk mencari solusi, termasuk berkomunikasi dengan pihak Shell Indonesia dan pemerintah. Namun, hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai tambahan pasokan BBM,” ujarnya.
Di tengah kelangkaan berbagai jenis BBM, SPBU Shell Mangunjaya saat ini hanya menjual BBM jenis Shell Super (RON 92). Meskipun demikian, Shell Super menjadi incaran para pengendara karena tidak semua SPBU Shell masih memiliki stok.
“Kami bersyukur masih bisa menjual Shell Super, meskipun jumlahnya terbatas. Banyak pengendara yang datang ke sini karena tahu bahwa kami masih memiliki stok. Bahkan, di website Shell Indonesia dicantumkan bahwa SPBU Shell Mangunjaya adalah salah satu yang masih memiliki stok Shell Super di wilayah Bekasi,” pungkas Devi.
Kondisi ini tentu menimbulkan kekhawatiran di kalangan pegawai SPBU Shell Mangunjaya. Mereka berharap agar pemerintah dan pihak terkait dapat segera menemukan solusi agar kelangkaan BBM dapat diatasi dan ancaman PHK dapat dihindari.
Editor: Deros
#InfoBekasi #KelangkaanBBM #PHK #SPBUShell #Bekasi
Data sumber: Wartakota






























