Elegi Seorang Raja Tanpa Mahkota

infobekasi.co.id – Di puncak keangkuhan dunia, di mana hamparan salju Alpen berciuman dengan mentari Eropa yang keemasan, berdirilah seorang pria. Latansa Nashibaka, namanya terukir di gedung-gedung pencakar langit, seorang raja ekonomi dunia tanpa mahkota. Alumni Oxford dulu lantang berorasi tentang etika, kini terperangkap dalam labirin transaksi gelap membangun imperium bisnisnya.

Di lereng Piz Corvatsch, Swiss, menghadap danau Silvaplana yang berkilauan bagai selendang malaikat di bawah taburan bintang, Latansa menikmati kemewahan yang dibelinya dengan mudah. Alam Alpen megah dengan puncak-puncak kristal dan udara segar, seharusnya menjadi oase baginya. Namun, jiwanya gelisah, dihantui bayangan masa lalu: seorang anak kecil di lautan pasir Bromo.

Pikirannya melayang, menembus waktu ke sebuah pagi di Jawa Timur. Bukit-bukit hijau Malang selatan bertemu dengan langit jingga di Widodaren. Di Penanjakan, seorang santri sederhana menatap kemegahan Bromo memukau. Kabut menyibak, menampakkan Gunung Batok yang anggun dan Semeru perkasa. Udara dingin menusuk tulang, bercampur aroma belerang dan kopi pahit. Di sini, Latansa bukan penguasa, melainkan bagian kecil dari alam semesta misterius.

Di lereng Batu, tersembunyi sebuah pesantren di antara pepohonan dan sawah hijau. Ribuan jiwa muda dari berbagai negeri menimba ilmu dan iman. Hari-hari mereka diisi dengan disiplin ketat, doa, hafalan Al-Quran, pelajaran dunia dan akhirat. Di laboratorium, mereka mengamati keajaiban ciptaan Tuhan. Di perpustakaan, mereka membaca dengan mata lelah namun hati haus akan cahaya.

Di pesantren itu, hidup tak hanya tentang ibadah. Ada drumb band yang memecah kesunyian, latihan silat yang penuh semangat, dan panggung seni membebaskan jiwa. Mereka makan bersama, belajar tentang rasa cukup dan kebersamaan. Shalat berjamaah menjadi napas menyatukan mereka. Muhadharah melatih mereka untuk menyebarkan kebenaran. Mereka adalah pelita menyala di tengah keindahan Malang selatan.

Tiba-tiba, kenangan menghantamnya: pemandian jenazah ayahnya di pesantren. Lelaki kurus yang berpulang setelah bekerja keras. Tangannya gemetar memegang kapas, diperintah Kiai untuk menutupi aurat sang mayat. Kapas itu lembut, namun terasa berat bagai gunung. Putihnya menyilaukan, menyentuh jiwa-jiwa yang masih hidup.

“Wahai anakku,” bisik sang Kiai, “Kapas ini cermin bagi amal kita. Di akhirat, rezekimu akan ditelusuri: dari mana kau peroleh, dan untuk apa kau gunakan?” Nasihat itu terpatri dalam benaknya, namun terlupakan oleh kemewahan Alpen dan helikopter pribadi. Ia membangun menara untuk melupakan gubuk, membeli tanah di Swiss untuk menutupi Bromo dalam ingatannya.

Kembali ke Alpen, longsoran salju datang menghantam. Bagi sang konglomerat, itu adalah halangan. Bagi jiwa santri, itu adalah penampakan barzakh. Ia melihat kapas, putih bersih, suci, membesar dalam pandangannya, seperti kapas yang dulu ia gunakan untuk memandikan jenazah sang Kiai. Kiai yang sederhana namun kaya jiwa, dimakamkan dengan dihadiri ribuan orang.

Di lereng gunung, di atas salju yang dibeli dengan harta “min aina” yang kelam, kapas itu datang kembali, menggelinding, menghantam, menggilas. Sebuah pertanyaan yang bergulung menjadi bola yang dahsyat.

Latansa terjatuh. Tubuhnya terhempas ke salju yang dingin. Tak ada jeritan, hanya desahan angin. Di pelupuk matanya, bukan lagi kemegahan Alpen, melainkan Bromo yang memantulkan kerendahan hati, dan sepotong kapas, putih, bersih, suci. Pertanyaan itu akhirnya datang, menghantam jiwanya: Min aina? Wa fima anfaqtahu?

Salju menjelma menjadi kapas, berbisik, “Tugasku adalah menemanimu dalam kesendirian terakhir.” Saat napas terhenti, kapas putih itu menyambut. Bukan kekayaan, bukan takhta, melainkan kesederhanaan bermakna. Ia menjadi bagian dari kain kafan, satu-satunya harta yang menyertai perjalanan ke keabadian. Di kegelapan kubur, ia akan merasakan getar ketakutan jiwa saat malaikat bertanya, Man rabbuka? Man nabiyuka? Serta interogasi di penghakiman ukhrawi: Min aina? Wa fima anfaqtahu?

Kapas-kapas Alpen pun menutupi tubuh Latansa yang kaku, memulasaranya dalam kesunyian yang pilu. Sebuah kehidupan sukses di mata dunia, namun berakhir dalam kesendirian. Dihadang oleh pertanyaan-pertanyaan sederhana dari masa lalunya, ternyata tak mampu dijawab oleh kekayaan. Karena, mulut tak lagi diberi kuasa untuk bersuara. Min aina? Wa fima anfaqtahu?

(Yudhiarma MK)

Editor : D. Rosyadi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini