infobekasi.co.id – Sejumlah UMKM di Bekasi mengeluhkan kenaikan harga bahan baku melonjak usai banjir dan cuaca buruk. Kondisi ini membuat beban produksi meningkat di tengah daya beli cenderung melemah. Di Bekasi Timur, pedagang nasi uduk mengaku omzet-nya turun.
“Sekarang sepi. Harga bahan baku naik semua, jadi untung makin tipis,” ucap pedagang nasi uduk tersebut, Senin (9/12/2025).
Ia menyebut, cabai rawit yang biasa dibeli Rp34 ribu kini harus dibayar Rp85 ribu per kilogram. Pemerintah daerah mencatat, kenaikan pada komoditas tersebut.
Pihak Disperindag Kota Bekasi melaporkan harga cabai rawit menembus Rp100.000/kg per 8 Desember, meningkat dua kali lipat akibat stok menipis di masa tanam dan tingginya permintaan jelang Natal dan Tahun Baru.
“Cabai lagi masa tanam pada Desember, stok menipis sementara permintaan melampaui harga acuan. Kami berkoordinasi dengan Kemendag untuk membuka operasi pasar murah,” jelas Kepala Disperindag Kota Bekasi, Eko Wijatmiko, Rabu (10/12).
Kenaikan juga terjadi pada bahan lain, yakni telur naik dari Rp28 ribu ke Rp30 ribu per kilogram, tepung dari Rp18 ribu menjadi Rp20 ribu, tomat dari Rp13 ribu ke Rp16 ribu, serta beberapa sayuran dari Rp9 ribu ke Rp12 ribu. Lonjakan harga tersebut membuat UMKM tertekan, sudah bergantung pada margin tipis.
“Kalau harga jual dinaikkan, pelanggan kabur. Tapi biaya produksi nggak bisa ditahan,” ujar Agus, penjual lontong di Bekasi Timur, yang mengaku terpaksa memakai uang rumah tangga untuk mempertahankan modal harian.
Pelaku UMKM menilai stabilisasi harga dan intervensi cepat diperlukan agar sektor usaha kecil tidak makin terbebani. Sampai operasi pasar benar-benar berjalan, tekanan biaya dianggap masih akan terus berlanjut.
Koresponden : Kesya Claudia, Mahasiswi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
Editor : Deros
#infobekasi #UMKM #Bekasi








































