Di Balik Ketertiban Kota Bekasi, Perjuangan Pedagang Barang Bekas Bertahan Hidup

Infobekasi.co.id – Di persimpangan Jalan Baru Perjuangan, Kelurahan Marga Mulya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, berderet penjual barang bekas, mulai dari pakaian hinga barang elektronik yang masih layak pakai.

Anto Hidayat (47), salah satu pedagang, menyusun handphone bekas, tablet, laptop lawas, dan berbagai peralatan elektronik lain di atas meja kayu sederhana, yang telah menjadi bagian dari kehidupannya selama lebih dari satu dekade. Sejak 2014, Ia mengaku, lapak kecil di ruang publik ini adalah satu-satunya sumber penghidupan bagi keluarganya.

“Penghasilan saya hanya dari sini,” ucap Anto dengan nada pelan, sambil menyusun barang dagangannya saat diwawancarai, Rabu (31/12) lalu.

Pria kelahiran Semarang, 30 Agustus 1978, yang sudah tinggal di Bekasi lebih dari sepuluh tahun ini sudah mencoba berbagai pekerjaan, dari tukang urut, hingga penjual variasi motor. Lantaran berjualan variasi motor butuh modal cukup besar, Anto banting setir, memilh berjualan barang bekas.

Anto tinggal bersama istri dan dua anaknya, yang sulung kini kelas 3 SMP dan yang bungsu kelas 5 SD. Setiap barang yang Ia jual bukan sekadar komoditas, melainkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kalau saya berhenti, anak-anak saya makan apa?, ” katanya, sambil merapihkan handphone bekas yang baru saja Ia bersihkan.

Barang-barang yang dijual berasal dari warga sekitar yang ingin melepas barang elektronik lama mereka. Anto memilih jalur ini karena paham betul, di tengah kondisi pendapatan ekonomi sebagian warga yang belum mapan, banyak orang membutuhkan barang murah namun masih layak pakai. Ia berjualan dari pagi hingga menjelang malam.

Keuntungan yang didapat tak pernah pasti, ada yang hanya cukup untuk makan sehari-hari, namun juga ada saatnya Ia bisa membawa pulang uang hingga Rp500 ribu, jika berhasil menjual satu unit laptop atau handphone.

“Kalau lagi sepi ya pasrah. Kalau ramai, alhamdulillah. Yang penting halal dan cukup,” ujarnya, sambil menyapa seorang pembeli yang hendak melihat sebuah tablet.

Namun, profesi sebagai pedagang thrifting bukanlah jalan yang mulus. Bayang-bayang penertiban selalu mengintai. Terutama, lantaran lapak berjualan berada di ruang publik. Ia kerap diminta membongkar dagangan, ketika ada kegiatan atau kunjungan pejabat.

“Kalau memang dilarang, saya berhenti. Tapi setelah itu saya balik lagi. Soalnya ini satu-satunya (tempat) cara saya bertahan hidup,” ucap Anto.

Saat musim hujan, awan mulai gelap, Anto mulai menyiapkan terpal untuk menutupi barang dagangannya. “Kalau hujan, ditutup terpal. Saya juga jual jas hujan. Yang penting tetap usaha,” katanya.

Dirinya mengaku, bahwa satu-satunya motivasinya adalah keluarga. Ia tidak menginginkan banyak hal, hanya sekadar ruang untuk mencari nafkah dengan cara yang halal.

“Motivasi hidup saya cuma keluarga. Saya tidak minta banyak. Saya cuma minta dikasih ruang buat cari makan,” ucapnya dengan nada lirih.

Di tengah upaya penataan kota yang terus berjalan, keberadaan Anto dan para pedagang barang bekasi lainnya menjadi pengingat, bahwa pembangunan kota tidak hanya tentang ketertiban fisik, tetapi juga tentang memperhatikan kehidupan manusia-manusia kecil yang menjadi bagian dari kota tersebut.

Di lapangan, seringkali tidak ada kejelasan batas antara barang bekas dan barang bekas lokal yang diperjualbelikan. Hal ini membuat pedagang kecil seperti Anto berada di posisi serba salah.

“Kalau memang ada aturan, harusnya pedagang kecil juga dikasih jalan keluar. Jangan cuma disuruh pergi,” saran Ia.

Lebih jauh Anto menegaskan, seluruh barang yang Ia jual berasal dari warga sekitar dan tidak ada yang bersumber dari impor ilegal. Namun, dirinya mengaku tak pernah mendapatkan penjelasan resmi secara tertulis mengenai larangan tersebut.

(Naila Putri Salsabila)

Editor : Deros

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini