Dibalik Imam Tarawih di Jatiasih, Tekad Whira Berikan “Mahkota” untuk Orang Tua di Akhirat

infobekasi.co.id – Dua kali kehilangan orang tersayang di usia sangat muda tidak membuat Muhammad Whira Aditya Pratama patah semangat. Justru dari situ, remaja berusia 18 tahun itu menemukan tujuan hidupnya, menjadi hafiz Al-Qur’an dan berbakti bagi orang banyak, salah satunya dengan memimpin salat Tarawih di lingkungannya.

Whira kehilangan ibunya saat baru berusia 1,5 tahun, kemudian ayahnya juga berpulang karena sakit ketika Ia berusia delapan tahun. Sejak itu, dirinya tumbuh besar tinggal bersama bibi-nya di RT 02 RW 06, Komsen, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi.

“Saya sangat ingin menjadi hafiz karena saya ingin memberi mahkota kepada kedua orang tua saya di akhirat kelak,” ucap Whira kepada insan media, Selasa (24/2/2026).

Kini duduk di bangku Kelas 3 SMA Nuurul Quran, Whira bukanlah orang baru dalam memimpin salat. Pengalamannya pertama kali memimpin salat Tarawih dimulai saat Ia duduk di Kelas 1 SMA, setelah sebelumnya mondok di Pesantren Ibnu Taimiyah saat masa SMP.

“Pada awalnya saya hanya belajar membaca Al-Qur’an di pesantren. Namun saat ini saya juga masih banyak belajar untuk menjadi imam yang lebih baik,” tururnya.

Berbekal pengalaman dari pesantren, Whira mendapatkan dukungan besar dari orang sekitar dan pengurus Musala Al Arysad, tempat Ia kini memimpin salat Tarawih setiap malam di bulan Ramadan. Whira terus mengembangkan kemampuannya dengan rajin berlatih membaca surat-surat Al-Qur’an dan memperbaiki tajwidnya.

Konsistensi Whira dalam menekuni agama membawa hasil. Selain menjadi imam Tarawih di musala lingkungannya, Ia juga rutin mendampingi ustaz di sekolahnya untuk mengisi kajian keagamaan di berbagai masjid.

“Terkadang saya diajak oleh ustaz untuk menemani beliau mengisi kajian di beberapa masjid, dan saya menjadi imam saat salat Maghrib dan Isya,” ungkap Whira.

Hingga saat ini, Ia mengaku telah berhasil menghafal 7 juz Al-Qur’an. Meskipun jadwal belajarnya di sekolah sangat padat, Whira selalu menemukan waktu untuk menghafal dan mengulang hafalan Al-Qur’an.

“Setiap Subuh saya murojaah sebelum berangkat sekolah. Ada juga waktu pukul 06.30 – 07.00 WIB untuk menambah hafalan, kemudian setelah pulang sekolah, dan saya selalu upayakan salat tepat waktu setiap lima waktu,” ujarnya.

Motivasi besar Whira datang dari sosok seorang karyawan pabrik pengolahan minuman yang menjadi imam tetap di Musala Al Arysad. Orang tersebut adalah orang pertama yang mengajaknya untuk belajar mengaji.

“Sosok itu selalu aktif membantu anak-anak sekitar untuk belajar mengaji. Dari situlah saya bisa mulai membaca Al-Qur’an dengan benar,” ucap Whira sambil mengingat awal perjalanannya.

Namun, menjadi imam tidak selalu mudah. Whira mengaku perlu memperhatikan kondisi jemaah yang hadir agar ibadah Tarawih berlangsung khidmat dan nyaman bagi semua orang.

“Tantangannya adalah menyesuaikan durasi bacaan dengan kondisi jemaah. Kalau kebanyakan orang tua yang renta, saya akan memendekkan bacaan agar mereka tidak capek. Saya tidak ingin ada orang yang malas mengikuti Tarawih karena bacaan terlalu panjang,” kata Dia.

Dengan tekad yang kuat dan dukungan dari sekitar, Whira menunjukkan bahwa cobaan hidup tidak harus menjadi penghalang untuk meraih cita-cita dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Reporter : Fahmi

Editor : Dede Rosyadi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini