Bukan Halangan, Tunanetra di Bekasi Buktikan Bisa Jago Main Catur

Infobekasi.co.id – Meski memiliki keterbatasan penglihatan, para penyandang disabilitas netra sama sekali tidak patah semangat untuk menekuni olahraga catur. Bahkan, cabang olahraga ini telah masuk dalam kategori olahraga inklusif membuka peluang seluas-luasnya bagi penyandang disabilitas, khususnya tunanetra, untuk berprestasi di kancah kompetisi.

Secara teknis, ada perbedaan mendasar pada peralatan catur yang dirancang khusus bagi para pecatur netra. Mereka menggunakan papan catur khusus dilengkapi lubang pada setiap petaknya, serta bidak memiliki tanda pembeda. Selain itu, kemampuan insting dan kepekaan sentuhan tangan menjadi kunci utama dalam setiap permainannya.

“Untuk disabilitas sensorik netra, memang ada kekhususan pada peralatan caturnya. Bentuknya berbeda, dan di papan ada lubang-lubangnya. Tujuannya supaya jika bidak tersenggol saat permainan, tidak mudah jatuh. Setiap buah caturnya itu ada kakinya, dimasukkan ke dalam lubang tersebut agar tetap aman di tempatnya,” tutur pelatih catur tunanetra Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi, Toni Budi Santoso, saat ditemui Info Bekasi, Minggu (10/5/2026).

Agar semakin memudahkan pemain mengenali jenis bidak, pembeda antara bidak berwarna gelap dan terang pun dibuat dengan tanda khusus berupa titik timbul atau tekstur tertentu. Hal yang sama juga diterapkan pada permukaan papan caturnya.

“Selain itu, buah catur juga diberi tanda pembeda. Biasanya bidak yang berwarna hitam diberi tanda khusus supaya tidak tertukar dengan yang putih. Begitu juga dengan kotak atau petak di papan caturnya; kotak berwarna hitam dibuat timbul, sedangkan yang putih datar atau agak masuk ke dalam, jadi bisa dibedakan lewat rabaan tangan,” jelasnya.

Bagi Toni Budi Santoso, catur merupakan salah satu cabang olahraga andalan bagi penyandang disabilitas netra, dan terbukti mampu melahirkan bibit-bibit atlet berbakat. Hal ini terlihat jelas saat digelarnya kejuaraan dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) beberapa waktu lalu. Sebanyak 20 peserta tunanetra dari berbagai daerah turut berkompetisi di STPL Bekasi, Bekasi Timur, pada Kamis (7/5/2026) lalu.

“Catur itu bisa dibilang olahraga yang bersifat inklusif dan bermasyarakat. Artinya, bisa dimainkan dan diikuti oleh siapa saja, baik penyandang disabilitas maupun non-disabilitas,” ujarnya.

Menjadi pelatih sekaligus pembimbing bagi para penyandang disabilitas di STPL juga menjadi tantangan tersendiri bagi Toni. Ia menjadikan profesinya ini sebagai sarana untuk berbagi ilmu dan mengembangkan bakat para tunanetra agar mahir dan berprestasi. Jadwal latihan pun ditetapkan rutin, yakni setiap Senin hingga Jumat, mulai pukul 13.00 hingga 16.00 WIB.

Meski melatih peserta dengan beragam keterbatasan, Toni mengaku selalu berusaha bersabar dan menyesuaikan metode pengajarannya. Baginya, kegiatan ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan ladang berbagi ilmu dan rezeki untuk sesama.

“Kalau soal kesulitan, kebetulan di STPL ini yang kami bina tidak hanya tunanetra, tapi juga ada yang memiliki disabilitas fisik. Jadi kami tinggal menyesuaikan saja metodenya. Alhamdulillah, sejauh ini semuanya bisa disesuaikan pelan-pelan. Tidak ada kendala berarti yang membuat kami kesulitan,” paparnya.

Melalui kegiatan ini, Toni pun berpesan dan berharap agar seluruh penyandang disabilitas tidak pernah berputus asa dalam menjalani kehidupan. Ia menekankan bahwa setiap individu, apa pun kondisinya, pasti memiliki kelebihan dan potensi masing-masing yang patut dikembangkan.

“Di Indonesia, catur ini sebenarnya termasuk olahraga favorit dan andalan. Buktinya saja saat ASEAN Para Games Thailand kemarin, kontingen catur Indonesia berhasil membawa pulang 9 medali emas. Jadi, jangan pernah patah semangat ya,” ujarĀ  tegas pria yang pernah menyabet medali emas Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) 2016 mewakili Jawa Barat itu.

(Fahmi)

Editor: DR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini