Infobekasi.co.id – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan, perlunya pembenahan serius dan mendasar terhadap seluruh sistem pengelolaan sampah di Jakarta, menyusul berbagai persoalan yang muncul di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.
Masih kata Pramono, partisipasi masyarakat menjadi faktor kunci untuk menekan volume sampah dibuang ke lokasi tersebut. Saat ini, volume sampah yang masuk ke TPST Bantargebang tercatat mencapai sekitar 7.000 ton setiap harinya.
Kondisi penumpukan sampah dalam jumlah besar ini telah menimbulkan sejumlah masalah serius. Salah satu peristiwa yang sempat terjadi adalah longsornya timbunan sampah yang menimpa kendaraan truk pengangkut dan menelan korban jiwa.
Belum lama ini, keberadaan TPST Bantargebang juga menjadi sorotan internasional. Sebuah laporan jurnal ilmiah menyebutkan lokasi tersebut sebagai penyumbang emisi gas metana terbesar kedua di dunia. Gas yang terlepas dari proses pembusukan sampah itu diketahui berbahaya bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan sekitar.
Menyikapi fakta tersebut, Pramono mengingatkan warga Jakarta untuk mulai membiasakan pemilahan sampah sejak dari sumber, serta melakukan pengolahan baik secara mandiri maupun melalui kerja sama dengan bank sampah.
Tujuan langkah ini agar hanya sampah yang benar-benar tidak memiliki nilai guna atau tidak dapat diolah kembali saja yang berakhir dibuang ke TPST Bantargebang.
“Saya yakin jika bergerak bersama, perubahan akan terwujud,” ujar Pramono, lansir dari keterangan resmi Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.






























