Skip to content

BPS: Banyak Pelaku Usaha Online Enggan Terbuka Saat Sensus Ekonomi

Infobekasi.co.id – Kegiatan Sensus Ekonomi di Kabupaten Bekasi turut menjaring data pelaku usaha yang menjalankan bisnis secara online. Namun, di tingkat rumah tangga, banyak pelaku usaha digital yang enggan menyampaikan aktivitas usahanya secara terbuka. Kondisi ini sering ditemui petugas yang bertugas di lapangan.

Ketua Tim Humas Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bekasi, Rengga Adhy Pratama, mengungkapkan, petugas kerap menemukan ketidaksesuaian antara keterangan warga dengan kondisi nyata di dalam rumah. Salah satu tandanya adalah ditemukannya tumpukan paket barang yang siap dikirim, yang masuk dalam klasifikasi kegiatan usaha.

“Kami juga menjaring data usaha online. Sayangnya, banyak pelaku usaha yang tidak mau mengakui bahwa mereka menjalankan bisnis secara online. Padahal saat petugas turun ke lapangan, sering terlihat tumpukan paket yang siap diambil atau dikirim,” ujar Rengga saat dikonfirmasi, Selasa (30/6/2026).

Ia menambahkan, petugas selalu menanyakan hal tersebut kepada pemilik rumah. Namun, sebagian besar beralasan, barang-barang itu adalah kiriman untuk anggota keluarga yang belum sempat dibuka. Rengga menduga ketidakterbukaan ini muncul karena kekhawatiran masyarakat terkait kewajiban perpajakan.

“Ketika ditanya, biasanya mereka menjawab, Ini paket milik anak saya, dapat banyak sekali. Ada dua kemungkinan: apakah anaknya memang menerima barang sebagai mitra afiliasi, atau justru mereka yang menjalankan usaha pengiriman barang. Namun jika diperhatikan, alamat tujuan pada paket berbeda-beda. Artinya, itu adalah barang yang siap dikirim ke pembeli,” jelasnya.

Rengga menegaskan, seluruh data yang dihimpun dalam sensus ini semata-mata digunakan untuk keperluan pemetaan perekonomian nasional dan daerah, bukan untuk kepentingan perpajakan maupun penegakan hukum.

“Sejak masa pandemi COVID-19, perekonomian justru lebih terjaga berkat peran UMKM yang tetap bertahan. Oleh karena itu, data ini sangat kami butuhkan untuk menyusun kebijakan yang tepat. Namun kami pun bingung jika masyarakat tidak terbuka, bagaimana kami bisa memberikan dukungan yang sesuai,” tandas Rengga.

(Anto/ded)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *