Skip to content

Melati di Tapal Batas, Lagu Cinta untuk Srikandi Tapal Batas Bekasi

Infobekasi.co.id – Melati di Tapal Batas, lagu perjuangan legendaris lahir dari kekaguman terhadap ketangguhan para pejuang wanita di garis tapal batas Bekasi pada masa Revolusi Fisik. Lagu berjudul “Melati di Tapal Batas” digubah oleh komposer nasional Ismail Marzuki bersama Suto Iskandar, terinspirasi oleh perjuangan Barisan Srikandi para wanita yang menyokong pertahanan Republik dari garis terdepan wilayah Bekasi, sekitar awal tahun 1947.

Sebagaimana dituturkan Ali Anwar, Sejarawan Bekasi, lagu itu dibuat setelah Ismail Marzuki bertemu Letnan Kolonel Moeffreni Moe’min, Komandan Resimen V Cikampek.

Pada masa perang kemerdekaan 1945-1949, Moeffreni memimpin wilayah pertahanan yang membentang dari Jakarta, garis depan Bekasi, hingga Karawang.

“Menurut prespektif saya, Kolonel Moeffreni Moe’min maksudnya baik. Biarlah kaum perempuan yang bertugas menjaga ladang sawah, mengurus anak dan fokus di dapur. Kalau bagian berperang itu kaum laki-laki. Udah ada bagian masing-masing,” jelas Ali Anwar kepada infobekasi, Minggu kemarin.

Para perempuan Bekasi itu tak memegang senjata di medan tempur. Namun pengabdian mereka tak kalah penting, mereka mengurus dapur umum, menyiapkan makanan buat para pejuang, yang bertahan di garis depan Bekasi. Sebuah makna kalimat dalam pada bait puisi, “Engkau sumbangkan jiwa raga di tapal batas Bekasi.”

Banyak laskar wanita atau Barisan Srikandi di Bekasi bergerak secara sukarela, tanpa tercatat dalam struktur maupun administrasi tentara resmi (TKR/TRI). Ketiadaan nomor registrasi dan catatan resmi inilah yang membuat pengabdian mereka luput dari pengakuan negara setelah Indonesia merdeka.

“Usai Indonesia merdeka, para perempuan yang ikut berjuang di bagian logistik dan dapur umum juga tidak mendapat dana kehormatan atau tunjangan veteran. Mereka dinilai belum memenuhi syarat sebagai pejuang, karena aturan mengharuskan tercatat bertempur dalam kurun waktu 1945-1949,” papar Ali Anwar.

Meski tak diakui sebagai penerima hak veteran, peran laksar wanita itu sangat vital. Tanpa adanya dapur umum di tapal batas Bekasi, pasukan para pejuang di garis depan belum tentu bisa bertahan dalam jangka panjang menghadapi gempuran musuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *