Peneliti Ungkap Predator Pembasmi Ikan Sapu-Sapu

Infobekasi.co.id – Ikan sapu-sapu yang dikenal sebagai ikan bersisik keras dan sering ditemukan di hampir seluruh aliran sungai di Indonesia ternyata memiliki kondisi yang sangat berbeda di tempat asalnya. Jika di dalam negeri ikan ini berkembang biak dengan sangat cepat dan hampir tidak terkendali, di kawasan Amerika Selatan jumlah populasinya tetap seimbang dan tidak menimbulkan gangguan lingkungan. Penyebab utamanya adalah keberadaan hewan pemangsa alami tidak ada di perairan Indonesia.

Ikan dari famili Loricariidae ini berasal dari wilayah timur laut Amerika Selatan, meliputi Brasil, Guyana, dan Trinidad dan Tobago. Saat ini, keberadaannya sudah menyebar luas dan menjadi spesies yang mendominasi perairan seperti Kali Ciliwung, Sungai Brantas, dan banyak sungai lainnya di Indonesia. Ikan ini masuk ke perairan dalam negeri sebagian besar karena ulah manusia, yaitu dilepaskan secara sengaja oleh pemilik akuarium tidak lagi memeliharanya.

Sesampainya di lingkungan baru, ikan sapu-sapu tumbuh dan berkembang biak dengan sangat pesat. Dalam satu kali masa bertelur, ikan jantan yang telah membuat sarang di tebing sungai bisa menghasilkan lebih dari 300 butir telur. Ditambah dengan kemampuannya bertahan hidup di berbagai kondisi perairan, ikan ini nyaris tidak memiliki hambatan untuk berkembang. Akibatnya, mereka merusak habitat dasar sungai dengan cara menggali lumpur, bersaing memperebutkan sumber makanan dengan ikan lokal, bahkan memakan telur dan bibit ikan asli yang sudah ada lebih dulu.

Berbeda halnya dengan kondisi di tempat asalnya. Di sungai-sungai Amerika Tengah dan Selatan, populasi ikan sapu-sapu selalu terkendali karena ada keberadaan berang-berang sungai neotropikal atau yang bernama ilmiah Lontra longicaudis. Hewan mamalia semiakuatik memiliki panjang 36 sampai 66 sentimeter dengan berat maksimal 15 kilogram ini merupakan pemangsa utama di ekosistem air tawar setempat.

Berdasarkan penelitian yang dimuat dalam jurnal PLOS ONE, di sejumlah aliran sungai di Guatemala, ikan sapu-sapu menjadi makanan utama berang-berang tersebut. Bahkan, jenis ikan ini menyumbang hampir setengah dari seluruh asupan makanannya, dan kondisi ini tercatat terjadi hanya tujuh tahun setelah ikan sapu-sapu pertama kali ditemukan di wilayah itu.

Berang-berang merupakan pemangsa yang sangat cocok untuk memburu ikan sapu-sapu. Hewan ini memiliki keahlian khusus untuk menangkap hewan air yang bergerak lambat dan hidup di dasar perairan, yang merupakan ciri khas ikan sapu-sapu. Meskipun dilindungi oleh lapisan sisik keras dan duri tajam di bagian sirip, berang-berang mampu mengatasinya dengan cara menyerang bagian perut ikan yang lebih lunak atau menggigit terus-menerus hingga mangsanya lemas.

Kondisi yang berbeda terjadi di Indonesia karena tidak ada pemangsa alami yang mampu mengendalikan populasi ikan sapu-sapu. Berang-berang jenis tersebut tidak hidup di kawasan Asia Tenggara, sedangkan hewan pemangsa lokal seperti ikan gabus, buaya, dan burung pemakan ikan belum terbiasa berburu ikan yang memiliki pertahanan diri sekuat ini.

Meski demikian, memasukkan berang-berang ke perairan Indonesia bukanlah solusi yang tepat. Tindakan semacam itu justru bisa menimbulkan masalah baru karena berisiko mengganggu keseimbangan ekosistem yang sudah ada. Pihak ahli menyarankan solusi yang lebih realistis, yaitu menjaga keberadaan dan jumlah populasi pemangsa lokal yang sudah ada, serta menghentikan kebiasaan melepaskan hewan peliharaan ke alam bebas yang menjadi sumber awal permasalahan ini.

Para peneliti menyebutkan, masalah yang ditimbulkan ikan sapu-sapu bukan semata-mata disebabkan oleh jenis ikan itu sendiri, melainkan karena ekosistem yang tidak lagi lengkap dan kehilangan keseimbangannya. Upaya menangkap dan membuang ikan ini secara massal hanya memberikan dampak sementara, namun tidak menyelesaikan akar permasalahan yang sebenarnya.

#IkanSapu-Sapu #Infobekasi #IkanInvasif

*Data dari berbagai sumber

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini