OPINI : BANJIR BEKASI

Infobekasi.co.id – Kota Bekasi tenggelam pada tahun baru 1 Januari 2020. Penyebabnya, hujan deras di Bekasi berbarengan dengan hujan deras di Bogor yang menggelontor melalui Kali Cikeas dan Kali Cileungsi, menyatu menjadi Kali Bekasi.

Debit air yang tinggi membuat air dari Bogor yang sampai di Bendung Bekasi berbalik ke selatan, sehingga air melimpah ke tanggul-tanggul kompleks perumahan. Hujan pun menggenanangi perumahan, bak tsunami.

Sementara itu, pintu bawah Bendung Bekasi dibuka full. Namun, dampaknya menambah parah banjir di kawasan perumahan sebelah utara Bendung Bekasi.

Banjir di Bekasi sudah berlangsung sejak berabad-abad silam:

1. Abad 5 M. Raja Tarumanegara, Purnawarman membangun sodetan Kali Candrabhaga dan Kali Gomati. Sodetan untuk mencegah banjir ke arah keraton dan pertanian.

2. Selama berabad-abad masyarakat Bekasi hidup dengan mengandalkan Kali Bekasi dll., menggunakan perahu. Jalan dan rumah yang berjejer dari bogor sampai muara Bekasi menghadap ke sungai. Rumah dibangun di lokasi tinggi yang tak terjamah banjir. Kalau kena banjir mereka membangun rumah panggung.

3. Awal tahun 1800-an dibangun jalan raya Daendels/Pantura Bekasi-Cirebon. Akhir tahun 1800-an dibangun rel Manggarai-Kedung Gedeh.

Moda transportasi mulai bergeser dari air ke jalan raya dan rel. Rumah-rumah mulai berpindah ke pinggir jalan. Jalan raya dan rel tersebut membuat jalan air terganggu, sehingga mulai banjir di sisi selatannya.

Di sisi lain, air Citarum dan Bekasi meluap membanjiri pertanian.

4. Tahun 1920-an Kali Citarum ditanggul, mengurangi banjir. Tapi pada tahun 1924, 1926, 1933 banjir menenggelamkan rumah, jalan raya (Batavia, Bekasi, Tambun, Cibitung, Cikarang, Lemahabang, Kedung Gedeh). Rel bergeser, jembatan rusak, rumah tenggelam.

5. Tahun 1961, banjir besar melanda Bekasi. 200 ribu warga kehilangan rumah.

6. Tahun 1957-1974 dibangun Waduk Jatiluhur dan Kalimalang, untuk pertanian dan banjir. Kalimalang dan Kali Bekasi menyatu di Bendung Bekasi.

7. Tahun 1973-1984, dibangun kanal Cikarang-Bekasi-Laut (CBL), air langsung surut, Bekasi bebas banjir. Karena CBL menyelesaikan banjir, pemerintah dan pengembang menutup rawa-rawa, sawah, kebun. Di atasnya dibangun kompleks-kompleks perumahan.

Pada saat yang bersamaan, hulu Kali Bekasi (hasil perpaduan Kali Cikeas dan Kali Cileungsi), Bogor dibangun jalan tol jagorawi, Bekasi dibangun tol Jakara-Cikampek dengan gorong-gorong yang sempit, perumahan, industri.

8. Tahun 2000-an, pembangunan perumahan dan industri serta pembabatan ruang terbuka hijau di Bekasi dan Bogor membuat air kian tak meresap ke tanah, melainkan menggelontor ke sungai dengan membawa material tanah dan pasir.

Kali Cikeas dan Kali Cileungsi yang menyatu menjadi Kali Bekasi kian dangkal, sementara air amat deras melaju dari arah Puncak dan Bogor. Bendung Bekasi yang sudah tua kurang mampu menahan besarnya debit air dari Bogor dan Purwakarta (Kalimalang).

Air pun berbalik ke selatan, sehingga membanjiri perumahan. Pintu bawah Bendung Bekasi yang dibuka membuat air menggelontor dan menimbulkan banjir di sejumlah titik sebelah utara Bendung Bekasi.

Pembangunan polder air tak mampu menampung air hujan, sipon Kali Bekasi lebih untuk menyelamatkan air baku untuk PDAM Bekasi dan Jakarta, pembangunan rel kereta cepat menutup sebagian akses air ke kolong tol Jakarta-Cikampek dan Kalimalang.

Dampaknya banjir besar menyergap Bekasi pada 2002, 2005, 2007, 2012, 2020. Menenggelamkan perumahan yang sebelumnya rawa, sawah, dan kebun.

Ali Anwar
Sejarawan Bekasi
Jumat, 10 Januari 2020

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini